Senin, 05 November 2018

AGAMA - BUKAN BAHAN BERCANDA

Dari lahir saya beragama islam. TK di Aisiyah, SD Muhammadiyah, SMP swasta tapi teman - teman saya juga islam, SMK Muhammadiyah lagi, Lalu kuliah di swasta. Dari lahir sampai SMK, lingkungan saya islam semua. Barulah ketika saya kuliah banyak bertemu teman - teman beda agama yang membuat pemikiran saya lebih terbuka.
Sebelumnya, karena intensitas bertemu orang yang berbeda agama saya sangat rendah, saya biasanya merasa deg - degan ketika bertemu dengan orang lain yang agamanya berbeda. Takut murtad dengan sendirinya. Sejak kecil saya dibiasakan untuk menghindari menyebut agama lain kecuali pas pelajaran IPS, ikon agama lain, ataupun tokoh - tokohnya. kalaupun terpaksa menyebutkan, harus dengan berbisik atau menggunakan kode. Misal menyebutkan anjing, dengan kata guguk, dll.
Lucunya,  saya pernah diberi sugesti oleh salah seorang tetangga saya untuk tidak melihat salib dalam bentuk apapun baik dari gambar, kalung, ataupun salib yang dipasang di depan gereja karena akan menimbulkan sakit kepala dan mual mual. Solusinya, kalau sudah terlanjur melihat harus makan apel hijau untuk meredakan pusing atau mual yang dialami. Sejak saat itu saya selalu takut dan merasa bersalah kepada diri sendiri kalau tidak sengaja melihat salib. Apalagi bercanda soal agama lain, selain tidak ada referensi, tidak ada sasaran yang mendengarkan juga.
Setelah kuliah barulah saya memiliki beberapa teman yang berbeda keyakinan. Awalnya agak canggung, akan tetapi lama kelamaan merasa terbiasa juga. Satu hal yang saya pelajari, mereka biasa saja. Mereka juga sama, makan nasi dan bisa bertoleransi. Pernah suatu ketika saya pergi berdua dengan seorang teman katholik ke sebuah desa kecil yang warganya muslim semua. Saat saya sholat di masjid, teman saya menunggu di depan. seorang ibu paruh baya menghampirinya dan mengajak ngobrol. Warga disana memang rata - rata ramah semua. Saat saya selesai sholat, ibu tadi pergi. saya bertanya kepada teman saya ini.
"kenapa dia ?" tanyaku. Dia disini maksudnya adalah ibu tadi.
" nanyain. sedang apa ? trus tak jawab nunggu temen sholat." jawabnya. " terus dia tanya lagi, lha kamu nggak sholat mbak ? tak jawab lagi haid." lanjutnya sambil tertawa.
Saya ikut tertawa kecil.
Dalam situasi ini saya tidak menyalahkan teman saya karena berbohong. Mengingat warga disana muslim semua, mungkin secara tidak sadar dia mencari aman daripada menimbulkan perasaan yang kurang nyaman kepada ibu tadi jika tau bahwa yang diajak ngobrol beda keyakinan.
Semakin kesini, saya semakin terbiasa berteman dengan non islam. Kami masih tetap bisa bercanda dan bercandaan kami aman - aman saja, tidak pernah menjadi sengketa.
sampai beberapa waktu lalu ada dua orang yang menurut saya adalah salah satu toleransi yang bisa dijadikan contoh, karena keduanya terlihat tidak pernah mendebatkan kalau agama yang dia anut paling benar. Kini, dua orang itu dituduh melakukan penistaan agama karena memasak dengan mengkombinasikan bahan halal dan haram dalam islam, Coki - Muslim.
Saya menonton video yang katanya lumayan mengundang perdebatan warga net tentang benar atau salahnya konten tersebut. Jujur, saya malah tertawa terbahak - bahak saat menonton video yang diunggah di channel Tretan Universe itu. Justru saya malah tidak tertawa dengan lawakan yang akhir - akhir ini populer yang bercandanya satu grup, bergantian memberikan argumen yang dianggap lucu lalu teman - teman dibelakangnya menyoraki. Saya bengong sambil bertanya - tanya lucunya dimana ?
Saya menonton ulag video Muslim yang jadi perdebatan itu, dan masih tertawa lagi. Penistaannya dimana ? kalaupun ada kasus penistaan agama, justru menurut saya yang berhak tersinggung adalah Coki saat di awal video Muslim bilang "Neraka, nekara, api neraka, babi ini neraka". kalau bersifat menjatuhkan, dengan kalimat yang dilontarkan muslim tersebut bukankah harusnya Coki yang tersinggung ?
Sebetulnya ketakutan apa yang dirasakan orang - orang yang menganggap itu adalah penistaan agama ? Agama tidak berkurang nilainya apalagi berkurang kebenarannya oleh persepsi yang dibuat manusia. Belum pernah saya mendengar ada orang berpindah agama karena agama sebelumnya dijadikan bahan bercandaan. Tapi kalaupun ada, saya yakin bukan agamanya yang salah, melainkan orang itu yang imannya lemah.
Saya pernah membaca, tapi lupa sumbernya yang menyatakan bahwa beberapa komedi termasuk yang menggunakan sarkas menunjukkan fungsi sosial untuk memecahkan tabu yang menghambat komunikasi antar manusia. Beberapa lawakan soal agama mungkin memang bisa menimbulkan prasangka buruk, tapi jika konteksnya tepat justru lawakan itu bisa mempererat ikatan sosial. Lawakan yang berhasil adalah ketika yang melontarkan pernyataan tidak perlu menjelaskan, audien sudah bisa tertawa. tanpa disadari berarti audien mengakui mereka juga memiliki keresahan dan pemahaman yang sama dengan si pelawak. Bukankah kalau sudah sama - sama sepaham, manusia bisa lebih akrab ?
Share:

Kamis, 18 Oktober 2018

MAKLUM, NAMANYA JUGA BAHAGIA

Sekitar akhir September 2018 lalu, tepatnya entah tanggal 26 atau 27 aku lupa karena terlalu biasa. bukan hari yang spesial sehingga lekat dalam dalam ingatan. Bangun pagi, siap - siap berangkat kerja - seperti biasa. 

Sampai di kantor, kebiasaanku masih sama sejak sekitar 2 tahun terakhir. menyiapkan goodday moccacino di meja, menyalakan komputer dan wifi, buka aplikasi youtube di hp untuk memutar lagu. Kenapa tidak menggunakan aplikasi pemutar lagu ? pernah, tapi tak uninstall karena sayang memory hp bututnya. Karena kantorku sepi, jadi hampir setiap hari kebiasaan memutar youtube nggak bisa dihindari, Biar nggak terlalu sepi.

Biasanya di pagi hari, aku akan play videonya Eclat, Meisandria Guitara, atau Alffyrev. Aku nggak pernah update soal lagu baru atau lagu yang sedang hits di Indonesia kalau diantara mereka bertiga nggak upload cover lagunya. Serius, Se norak itu ! 

Pagi itu, sambil mendengarkan lagu Senyum ku yang dulu karya Willy Anggawinata (salah satu personel eclat juga) aku scrolling instagram. untungnya algoritma instagram menempatkan story orang - orang yang biasa di cari berada di halaman depan. kebetulan, akun orang yang paling ku idolakan di Eclat -Yosua gunawan ada diurutan paling perama story instagram. isi storynya pamflet Roadshow Youtube Fanfest Indonesia, dan Eclat akan manggung di Hartono Mall sabtu besok! -dan Non ticketed.
Wah, Langsung bahagia seketika, lalu lupa kerja.



Jumat Sore, setelah jam kerja usai, aku langsung pulang ke Magelang naik motor kesayangan. Aku berangkat dari kantor pukul 05.00 sore, pas sampai jalan lingkar Ambarawa sekitar rawa pening, aku disuguhi sunset yang terlihat lebih indah dari biasanya. Atau mungkin karena aku sedang bahagia? Singkat cerita aku sampai rumah dengan selamat dan tak ada yang begitu special di rumah.

Keesokan harinya, cek di Instagram dengan susah payah karena signal dirumah amat sangat susah. Terlihat story dari Louis Xander Liang, guitaris Eclat yang curhat ketinggalan pesawat ke Jogja. Sambil senyum senyum sendiri ku bilang dalam hati "Halah, paling gimmick buat surprise fans yang di Jogja."

Selisih beberapa story selanjutnya, Willy Anggawinata juga upload story yang menceritakan bahwa mereka beneran ketinggalan pesawat. Aku terbengong dengan muka bego sebentar. Yah, kalau Eclat batal ke Jogja, rasanya sia - sia dong kemarin motoran Semarang - Magelang macet - macetan 2.5 Jam. Aku terus pantau storynya, sampai sekitar setengah 12, kalau tidak salah akhirnya Louis update instastory lagi mengabarkan bahwa Eclat jadi berangkat ke Jogja. Aku lagsung siap - siap berangkat juga ke Jogja naik motor kesayangan lagi, sendiri lagi. Biasanya juga begitu. 

Perjalanan yang biasanya hanya satu jam juga jadi lebih 30 menit karena macet. "Kenapa sih orang lain mau panas - panasan keluar rumah di siang hari yang terik begini ? Kalian dirumah aja, biar jalanannya lengang, biar aku saja yang hitam kepanasan." Gerutuku



Sampainya di Hartono Mall, muter - muter nyari venue Youtube Fanfestnya. Untungnya pengdengaranku hari itu sedang baik. aku mengikuti arah suara yang kuduga dari acara itu, dan akhirnya benar. Ketemu! 



Masuk Acaranya, masih acara yang aku nggak peduli aku kurang tahu, tapi terlihat dipanggung Loius sepertinya sedang check sound  (atau check guitar?)  entahlah. Ya maksudku itu! Di Jadwal, masih ada sekitar 30 menit lagi eclat tampil. iseng - iseng ngintip backstage sebelah kiri, nggak ada yang menarik. lalu ke sebelah kanan, Terlihat beberapa orang mengenakan jaket bertuliskan YTFFID, lalu Jefta Jason keluar dari sebuah pintu. Eh, pintunya memang hanya satu itu. Berarti kemungkinan besar teman - teman eclat yang lain juga didalam sana. 



Benar saja, selang beberapa detik kemudian terlihat Yosua. Tiba tiba nafasku agak sesak, jantungku berdebar kencang, tanganku gemetaran saking bahagianya. Terlihat berlebihan ya ? tapi serius. Reaksiku memang selalu lebih heboh dari kalian kan ? 

Oiya, kalau saat kamu membaca ini berpikir yosua ada tepat didepanku, maaf kamu salah. Mungkin karena aku yang kurang detail menceritakan. Jarak kami sekitar 5 meter, dibatasi pagar, tiang panggung, 2 security tepat didepanku, serta beberapa orang yang lewat diantara 5 meter itu. Tapi begitu saja aku sudah bahagia. beberapa kali aku mencoba mendapatkan foto wajah candid Yosua, tapi lebih banyak yang gagal. Salah satu security didepanku malah iseng beberapa kali menutupi lendaku dengan tanggannya. Aku sedikit takut kalau kameraku akan diminta dan dihapus file'nya. dengan muka cemas aku bertanya "nggak boleh foto pak ?" Jawabannya sederhana dengan tertawa "ngak boleh kalau nggak ada foto saya." Hadeh!



Beberapa waktu kemudian, Eclat bernyayi diatas panggung. Ku rasa, ini pertama kalinya aku menonton idola secara langsung. Dulu pada jamannya aku pernah mau nonton konser Pee Wee Gaskins di Semarang. Sampai di parkiran acara kulihat beberapa orang yang mabuk, dan dandanan mereka rata - rata seperti preman. Aku takut, lalu pulang. 



Setelah Eclat tampil, kulihat beberapa orang menuju belakang panggung untuk bertemu dengan idola masing - masing tentunya. Akupun berusaha menyusup ke kerumunan dan berhasil mendapatkan posisi di garda paling depan diluar batas yang diperbolehkan. Kulihat para personel eclat mengobrol dengan performer lain -para gamer yang tak ku ketahui juga. dengan semangat 45, ku arahkan kameraku ke Loius, Willy, Jefta, dan Yosua lalu memencet tombol shutter beberapa kali. Lalu, posisi yosua tepat berada didepanku tapi membelakangi. dekat sekali. Kalau mau mengulurkan tangan, aku yakin kita bisa bergandeng tangan. 



Kuberanikan diri untuk memanggil namanya sekedar untuk balasan senyum. Tak lebih. Tapi saat kupanggil, dia menengok, menyapa balik, dan bilang "nanti kesana ya (sambil menunjuk) buat foto bareng, disini nggak boleh soalnya" wah.. hatiku benar - benar merasa meleleh. Se- Lebay itu.  Setelah menunggu beberapa menit, Akhirnya eclat pergi dari backstage. Yosua memberikan kode ke beberapa orang yang mungkin tadi sudah lebih dulu menyapanya. Ah, tak kira hanya aku yang diajak.
Aku dan beberapa orang lainya mengikuti keluar gedung, lalu mengambil banyak sekali jepretan dan ngobrol sebentar. 



Diluar ekspektasiku yang berangkat dari Semarang ke Jogja hanya akan menonton berdesakan saat Willy menyanyikan lagu inikah cinta, ternyata bisa ngobrol juga.  Setelah selesai foto - foto, aku langsung pulang ke Magelang dan minggu pagi baru ke Semarang lagi. perjalanan sama sekali tidak terasa melelahkan kalau hatinya bahagia. Sepanjang jalan aku senyum - senyum sendiri hampir seperti orang gila. 
Ya, namanya juga bahagia. 

Kalau kamu bertemu idola, kira - kira gimana reaksinya ?
Share:

Selasa, 11 September 2018

I LOVE YOU, MY SELF



Pagi ini bangun tidur seperti biasa buka Hp dan baca - baca sosial media. Mulai dari Instagram sampai whatsapp. tiba - tiba ada perasaan nggak ikhlas karena kemarin aku menghapus dan mengarsipkan beberapa foto di instagram karena alasan mengikuti orang lain. Kaget sendiri saat sadar bahwa aku bisa diatur. 

Tiba - tiba teringat kalimat @iiqhue beberapa bulan lalu pas aku lagi patah hati sama orang sampai aku menjauh dari lingkaran sosial termasuk uninstall instagram yang hanya betah kurang dari seminggu. Dia bilang, labil sekali. tingkahku saat itu juga tak terkendali. Untuk mengatasi itu, aku mulai lagi dengan menyibukkan diri, bertemu banyak orang baru, mendengarkan cerita baru, membuat kenangan baru.

Pikiranku semakin penuh, kegiatan juga bertambah padat. Aku pikir dengan begitu akan membuat tidur malamku menjadi nyenyak karena fisik dan pikiranku lelah, ternyata tidak. Ini jauh lebih melelahkan. Istirahat semakin tidak teratur, makan tidak teratur, dan semakin tidak berdamai dengan diri sendiri. 

Kacau !

Sebentar, kalimat itu, "berdamai dengan diri sendiri" apakah aku sudah melakukannya ? Rasanya ini sumber masalahnya. dua tahun lalu dan sebelum - sebelumnya sepertinya aku adalah manusia paling bahagia. Itu masa - masa senang mencoba hal baru. Masa - masa nggak peduli sama sekali sama pendapat orang lain, mencintai diri sendiri, dan bahagia. 

Entah kenapa, semakin kesini rasa cinta sama diri sendiri semakin luntur, hilang. Yang ada dipikiran hanya pemikiran orang lain, takut salah dimata orang lain, takut menjadi beda. Setiap mau melakukan sesuatu mikirin dulu gimana kira - kira pendapat orang lain nanti, atau kalau sudah kelewat ceroboh sendiri jadi takut dillihat orang lain. Pada akhirnya takut buat mencoba hal - hal baru lagi dan mencari jalur aman. 

Mengingat kembali, dulu aku cinta banget sama aplikasi instagram. Buktinya, bersua dengan banyak followers dan mengingat dulu bareng - bareng gedein akun sama @iiqhue. Dari followers yang dibawah seratus sampai waktu itu sekitar 15 ribu. Saat itu, aku bahagia. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Karena aku tidak bisa mengendalikan pendapat netizen, jadinya malah aku yang kalah. Awalnya secara nggak sadar jadi mengikuti arus dan keinginan netizen. 

Hari ini, setelah ku pikir kembali itulah alasannya aku sering merasa capek sendiri. Aku lelah bertopeng, menuruti pendapat netijen. Sekarang, aku mau melepaskan jeratan tali - tali yang mengganggu pikiran itu, lalu kembali berdamai dengan diriku sendiri. memeluk hangat jiwa yang dingin ini, memberikan senyum yang rasanya sudah lama tidak mendapatkannya. 

Dear my self,
I love you.
Hari ini beban sudah dilepaskan, diikhlaskan. Jangan lagi menyakiti diri sendiri dengan pendapat orang lain. Percayalah bahwa kamu layak untuk bahagia.

Share:

Selasa, 04 September 2018

MAKHLUK SOSIAL

Manusia adalah makhluk yang selalu menarik, baik dari penampilan maupun kelakuannya. Dulu, pemikiranku sungguh sempit (sekarang masih, tapi mulai membaik). Aku menjadi manusia yang tak mau menjalankan toleransi. Yang benar begini, bukan begitu, Aturannya begini, kamu jagan begitu. Tapi kalau caraku yang beda, ya ini caraku. Apa urusannya denganmu ? dan seterusnya. Egois!

Karena jarang sependapat dengan orang lain, aku banyak menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Akhirnya aku nyaman melakukan apapun sendiri, berteman dengan sepi. Sampai suatu malam, entah bagaimana ceritanya aku merasa tak nyaman dengan sepi. Lalu sejak saat itu mulai mencari - cari lagi, mengingat kembali apa yang membuatku dulu betah ? kenapa sekarang tiba - tiba berontak ?
Teringat kutipan yang disampaikan dosen saat kuliah, dari bukunya Aristoteles kalau tak salah. Pada dasarnya manusia adalah zoon politicon, selalu ingin bergaul dengan orang lain, bergabung dengan masyarakat. Akhirnya beberapa hari kemudian aku mulai mengikuti kegiatan - kegiatan yang tujuannya adalah aku bisa bertemu dengan banyak orang.

Awalnya takut, tapi memaksakan diri. Aku mencoba berkenalan dengan orang baru, mengobrol dengan orang yang tak dikenal, dan sebagainya.  Lalu keberanianku mulai tumbuh. Oiya, sebelumnya aku nggak pernah aktif ikut organisasi saat sekolah, kuper banget. Suatu hari aku menemukan acara Koper Ransel di Instagram yang akan diadakan di semarang yang memungkinkanku untuk datang. Sepertinya, itu pertama kalinya aku ikut kegiatan komunitas - komunias gitu. 

Di acara itu, seru juga ternyata. aku berkenalan dengan beberapa kawan. Aku datang kesana sendiri, memang kebetulan tidak mau mengajak orang kecuali kakakku yang saat itu sibuk bekerja. Aku berkenalan dengan beberapa kawan yang sekarang hanya kuingat beberapa. Di acara itu juga ada makan siang bersama. Aku bingung mau makan dengan siapa karena belum ada yang akrab. Ada seseorang yang duduk di meja yang muat berempat, dan dia sendiri. pikirku dia Nerd juga sepertiku, kuberanikan diri untuk ikut duduk di mejanya. Ternyata beberapa menit kemudian pacarnya datang. Dari toilet katanya. Lalu datang lagi seseorang, yang terlihat gayanya paling beda, susah diungkapkan. Kita sebut saja dia mas Lana. Dia ikut duduk di sampingku, lalu kami makan sambil mengobrol. Karena ini acara traveling, obrolan makan siang pun berisi tentang cerita saat mereka traveling. aku hanya mendengarkan. Pertama kali aku betul - betul tertarik mendengarkan ceritanya adalah ketika dia bilang pernah dapat tiket PP ke bangkok cuma 200 perak. Aku langsung terpana. Pertanyaan paling basic lainnya yang muncul dai obrolan ini adalah "ikut komunitas apa aja?" nah aku dengan muka bloon jawab nggak ada sama sekali. sebelunya nggak pernah tertarik. lalu jawabannya adalah "Jangan ikut - ikutan komunitas, Nagih." Katanya. 

Saat itu, diantara kami semua tidak ada yang tukar kontak. hanya saja si mas Lana memberikanku sebuah sticker, katanya "ikut acara komunitas ini juga ya kalau sempat. jangan takut, jangan malu. bilang aja kenal aku." Bukan karena dianya, tapi karena aku memang mau memberanikan diri untuk mencari teman, akhirnya aku ikut acara yang biasanya mereka lakukan rutin - Kopdar Backpacker Semarang. 

Kebetulan aku ikut kopdar itu bukan karena kopdarnya sih, lebih tepatnya karena hari besoknya aku mau ikut camcer untuk pertama kali. Nah acara itu dibuat oleh backpacker semarang. Aku sih mikirnya sebelum camping bareng, bolehkah kenalan dulu sama manusia - manusia yang besoknya mau acara bareng. Nah, betul saja. dari acara itu aku bisa ketemu dengan banyak teman baru.

Karena komunitas pertama yang paling menarik hati adalah koper ransel by travelingyuk, aku nggak mau jadi kacang lupa kulit dong. Eh, lebih tepatnya nggak mau melewatkan kesempatan untuk mencari kawan dari kota lain. Waktu itu kan acara pertama yang ku ikuti di semarang, Nah Selanjutnya Travelingyuk ini mengadakan acara yang sama di kota - kota lainnya, termasuk Jogja. Jarakku dari rumah ke Jogja yang menurutku tidak terlalu jauh akhirnya ku tempuh. Aku bertemu lagi dengan crew yang dulu pernah bertemu di Semarang. Senangnya. Disana tentunya menambah teman baru.

Crew yang ramah, teman - teman baru yang ramah membuatku merasa diterima di masyarakat. Selanjutnya, berasa semakin akrab dengan Kak Lidya, Kak Raisa, dan Kak Kiky waktu itu. Sampai kadang aku sok kenal dan semakin kurang ajar saat berkomunikasi dengan mereka via media sosial. 
Acara - Acara travelingyuk Selanjutnya yang sekiranya bisa ku datangi dengan motor aku ikuti. Cerita One day trip ke kebun teh medini, misalnya. Tega - teganya aku menyuruh gadis manis yang baru datang dari Malang mengendarai motor butut dari Semarang sampai ke kebun teh medini karena sampai saat ini aku masih belum berani lagi mengendarai motor melewati jalanan berbatu dan berliku liku. 

Wah, cerita yang kutulis jadi mengarah pada Travelingyuk ya, sudah ah. takut salah ngomong. Intinya, dari pertama kali ikut kegiatan waktu itu, aku semakin banyak mengikuti kegiatan sosial lainnya. Seperti mengikuti kelas gapura digital karena info dari teman di travelingyuk, dan lain - lain. Minggu lalu juga, aku diajak Mba Ratih, teman travelingyuk dari Solo untuk ikut Sightseeing bersama kawan - kawan yang belum dikenal di Jogja, dan masih banyak lagi.

Inti dari cerita yang nggak jelas ini adalah aku ingin mengajak teman - teman untuk keluar zona nyaman yang belum tentu itu adalah zona aman. Sepertiku dulu, sepertinya hidup sendiri adalah hal paling menyenangkan, tapi kenyataannya saat keluar dari tempurung, banyak sekali hal menyenangkan yang bisa di pelajari, bisa di nikmati. Manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk hidup.

Terimakasih sudah membaca
ini ada beberapa foto yang jadi icon group di WA, biar kelihatan ada gambarnya aja di thumbnail. Mungkin nanti kalau ingat aku upload foto - foto lain yang ada di gelery








Share:

Kamis, 30 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 5 - PULANG

Minggu, 19 Agustus 2018

Sama seperti pagi - pagi sebelumnya di Bali, hujan. tapi hari ini hanya gerimis. setelah mandi dan membereskan barang - barang, aku turun ke lobby untuk sarapan. aku memilih duduk di teras sambil memandangi gerimis. Kuseruput teh yang baru saja kuseduh, sambil melamun. tiba - tiba seorang pengendara yang melintas teriak, motornya ambruk lalu lari sambil teriak yang kurang jelas teriakannya apa. lalu beberapa warga yang ada di sekitar berbondong - bondong keluar dan ikut mengejar. Ternyata, pengendara yang motornya ambruk itu adalah korban copet. dia berusaha mengejar copet yang membawa lari dompet dan smartphone yang dimasukkan di pouch kecil yang ditentengnya, tapi karena gemetaran jadi motornya jatuh. Aku ikut deg-degan, bak menonton pertandingan laga. Salah satu orang membantu meminggirkan motornya yang menghalangi jalan. beberapa saat kemudian, korban copet tadi kembali dengan hati yang sedih. dompet dan HP nya tidak kembali.

 

Setelah semua bubar, aku lanjut menghabiskan sarapan yang ku pesan lalu menuju warung yang berada hanya sekitar 200 meter dari homestay untuk membeli sandal karena sepatuku basah kuyup akibat kemarin seharian dipakai berjalan di tengah hujan, serta berjalan di pasir pantai. Harga sendal jepit 15.000. Karena saat 17 Agustus aku mencoba mencari gojek atau grab bike susah dan pas dapat tiba tiba drivernya cancel, jadi aku memikirkan alternatif transportasi ke terminal hari ini. Bus yang akan aku tumpangi berangkat dari Terminal Mengwi pukul 13.00. Baru jam 9 aku sudah mencoba membuka aplikasi Grab. Tapi, sepertinya lancar. Ongkos untuk ke terminal mengwi naik - turun jika membayar menggunakan cash. Ku lihat ada promo bayar pakai Ovo hanya 1 rupiah. sekilas baca cara pengisian Ovo bisa melalui alfamart, Driver, atau pulsa. Lagsung ku isi pulsa 25k dengan membayar 27.000 ke mbak - mbak indomaret, lalu mau aku isikan ke saldo Ovo. ternyata aku salah baca. Pulsa yang ku beli sia - sia karena seharusnya jika aku sudah punya saldo Ovo bisa digunakan untuk mengisi pulsa, tapi tidak berlaku sebaliknya. Yasudahlah.



Aku berhasil order gojek dari Kuta - Mengwi seharga 47.000 padahal masih jam 10 pagi, tapi daripada di cancel dan nanti dapatnya susah, jadi yasudah. berangkat ke terminal kepagian. Sampai di terminal bimgung sendiri. Mau apa selama nunggu 3 jam ? Tau sendiri suasana terminal tidak menyenangkan. JAdi jalan ke taman Rama - Shinta, foto - foto sebentar, lalu kameranya mati. huh. Tadi malam lupa nggak di charge. Mencari warung makan, sekitar 1.5 km dari situ ada warung ayam betutu. Tapi sudah terlanjur malas jalan. akhirnya kembali jalan ke terminal lagi.

Sempat ngobrol sebentar dengan ibu - ibu yang menunggu dijemput anaknya. Lalu karena merasa sudah siang, ibu itu menyarankanku ke kantin untuk makan. Padahal aku sendiri lupa kalau belum makan siang. aku menuju kantin yang di arahkan ibu itu. Hanya warung sederhana, aku memesan nasi rames lalu mengambil air mineral di meja, lalu duduk. Ibu penjualnya orang jawa, jelas terdengar dari logat dan bahasanya. Kebanyakan yang diterminal itu kurasa juga jawa. Tiba tiba, orang - orang di terminal itu ribut sambil lari, termasuk pemilik warung itu yang lari sambil membawa nasu pesananku. "Buk, nasiku!" kataku. Kupikir Ibu itu lupa tadi yang pesan siapa. Baru sadar, ternyata suara lainnya berteriak "gempa!, gempa!" Aku baru sadar mereka lari karena gempa. Akupun ikut lari. Masih ada seorang lagi yang masih asik menghabiskan kerupuk sambil membalas pesan chat di smartphone yang ia bawa. Aku memanggilnya "mas, Nggak ikutan minggir? ini gempa." Baru orang itu tersadar dan ikutan lari dari bangunan.


Setelah kehebohan yang terjadi, alhamdulillah tidak ada yang parah. aku bisa makan siang dengan tenang. biaya makan siang cukup murah, hanya 18.000. Setelah itu, aku kembali menunggu bus yang berangkatnya molor 1 jam dari Jadwal.

Bus yang aku tumpangi sudah memberikan 2X makan dan minum sampai aku sampai di Semarang, jadi nggak perlu beli makan lagi. Nggak banyak cerita dari perjalanan bus ini. Aku lebih banyak tidur karena takut mabuk darat. Tapi untungnya, paginya sekitar jam 8 sampai disemarang aku tidak mabuk darat. Sepertinya, ini pertama kali. Aku hebat. Aku turun di daerah Pucang Gading, Lalu naik Trans semarang warna biru seharga 3.500. Harusnya aku pindah bus di simpang lima ke balaikota, agar bisa transfer ke trans Jateng. Tapi karena lelah, aku ketiduran di bus. Akhirnya aku transfer ke halte Tawang, Baru naik Trans Jateng yang harganya juga 3.500 sampai di Harjosari, tempat tiggalku.

Nah, itu dia cerita #nggembelkebali kali ini. total pengeluaranku bisa kalian hitung sendiri, kurang dari satu juta rupiah.
Yang terpenting, aku sudah melunasi #janjibali yang kubuat sejak saat lagi pusing - pusingnya mikir kuliah. Akhirnya sekarang sudah Lunas.
Selanjutnya backpacking kemana lagi ya ?
Share:

Rabu, 29 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 4 - NGGEMBEL DI BALI

Tanggal 18 Agustus 2018



Alarm di hp bunyi pukul 05.30 pagi, aku segera tidur lagi. haha. enggak lah, aku bangun, sholat, mandi. Sayangnya, diluar gerimis. Wah, bakalan sedih banget sih kalau hujan lagi. Karena di luar masih gelap, aku tidur - tiduran lagi sampai jam 8, lalu aku sarapan. itupun masih hujan. Kebetulan ada teman ngobrol waktu sarapan. Mas - mas anak motor gitu. Ternyata dia dari Solo naik motor sendiri ke Bali, karena ada acara gathering komunitas motor. Selesai gathering, jalan - jalan. Tadinya kalau mas - mas yang tak diketahui namanya ini belum mau check out, mau tak ajak jalan bareng (dibaca : nebeng) tapi sayangnya dia yang udah sekitar seminggu disini tetap mau pulang ke Solo hari ini juga.

Hujan belum reda, padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Ada seorang mas - mas lagi yang check in dengan mengenakan kostum ala petualang dengan carrier yang di gendong di punggung lebih tinggi dari kepalanya dan daypack yang digendong di depan badannya. sambil nunggu proses check in, dia duduk di dekatku (karena memang ruangan itu tidak terlalu besar). Sempat ngobrol Juga sebentar. Diketahui, asalnya dari medan. sudah sekitar 2 bulan keliling Jawa, dan akhirnya hari ini sampai di Bali. Rencananya mau sekitar seminggu di Bali, lalu pulang ke Medan.

Manusia selanjutnya, koko - koko dari Shanghai.  Katanya baru putus cinta, Jadi solo traveling ke Indonesia. Rencananya mau ke lombok setelah dari Bali, tapi karena ada bencana Gempa, jadi dia belum tau mau kemana. Wah, cerita - cerita traveler yang begini yang aku suka. Jadi pengen ganti pekerjaan yang bisa se fleksibel mereka.



Nggak terasa, sudah jam 10 lebih. Hujan reda, walaupun masih sedikit gerimis. aku memutuskan untuk naik gojek ke bandara untuk naik bus Sarbagita karena halte terdekat dari posisiku adalah di Bandara. Ongkos gojek 10.000, aku diturunkan di sekitar parkiran motor. ku tanya halte sarbagita ke mana, dia nggak tau. Jadi dari parkiran motor aku jalan kaki masuk area bandara, lalu menemukan spot foto sejuta umat. Ya tentu, foto dulu. Saat itu bekas hujan, jadi lumayan sepi. Ada Bapak - bapak yang sedang membereskan trolley melihat kearahku. Ku kira mau menegur karena dilarang foto, ternyata malah memberi rekomendasi spot foto lainnya. Makasih pak!



Selanjutnya menuju tempat tunggu bus. Ada mas - mas yang juga nunggu bus tanya "mbak, biasa naik sarbagita ? ini busnya kapan datang ya ? saya sudah 1 jam lebih kok nggak ada yang datang." Mati! kataku dalam hati. Akhirnya sambil ngobrol sama dia. Sebetulnya dia asli Bali, tapi lama tinggal di Jakarta. kebetulan hari ini pulang kampung mau naik bus sampai sekitar Ubud, rumahnya. Kata dia, memang untuk tujuan wisata bali bintang lima. tapi urusan transportasi bobrok semua. kebanyakan pejabat pemerintah memiliki bisnis pariwisata, jadi katanya dibuat rekayasa angkutan umum yang murah seperti sarbagita ini di minimalisir. Ya, entahlah.



Sudah menunggu satu jam belum ada juga bus yang datang. Akhirnya aku memutuskan jalan kaki sekitar 2.3 km menuju hutan wisata mangrove di ujung bali mandara toll road. sambil jalan, ketawa sendiri -Akhirnya nggembel yang aku banget. Sampai di hutan mangrove juga merasakan bahagia yang sama. Memang, aku lebih bahagia menemukan tempat yang nggak banyak dikunjungi buat wisata seperti ini dibandingkan dengan cerita hari kemarin yang jalan sendirian ditengah keramaian legian. Ditengah jalan, aku membeli jus mangga seharga 10.000, dan lanjut jalan lagi.



Bingung mau kemana, akhirnya membuka google ada pantai jerman yang lokasinya berada di sekitar belakang bandara Ngurah Rai. Jadi aku jalan lagi 2.3 km ke bandara. Kulihat di peta bisa lewat belakang parkiran bus bandara, tapi ternyata ada tembok yang menghalangi. Aku tanya ibu - ibu tukang sapu yang sedang bekerja, katanya harus lewat jalan perkampungan. "itu lurus kesana dek, nanti ada pertigaan ke utara, perempatan ke timur, nanti ada patung ke utara, bla bla bla" aku cuma bisa melongo. Jujur saja, aku bodoh soal arah. aku hanya menganggung - angguk sambil lihat arah tangan ibu itu saat menjelaskan. Ah, untung tangannya sambil nunjukin ke arah kanan dan kiri.



Ternyata, benar arahan tangan dari ibu tadi. aku sampai di Pantai Jerman. Menyenangkan sekali. Pantainya jauh lebih sepi dibandingkan Kuta. Aku foto - foto sambil isirahat sebentar, lalu lanjut jalan menyusuri pantai ke arah kanan - arah ke Kuta. Sambil jalan, aku beli minuman seharga 7.500. Sesekali aku istirahat, duduk di pinggir pantai. Aku juga mampir ke Discovery mall untuk ngadem. Disini jauh lebih sepi dibandingkan beachwalk. padahal menurutku secara lokasi sama, mall yang menuju pantai.



Aku berjalan menyusuri Kuta art market, tapi tidak masuk karena sudah sangat lelah, dan mampir ke toko yang menjual barang serba 10.000. Karena memang nggak niat beli oleh oleh, jadi aku cuma beli sticker bentuk peta bali dan kalung untuk diriku sendiri. Pelit ya ? selanjutnya, aku lanjut jalan sampai ke homestay. Setelah sampai, aku langsung mandi dan meluruskan kaki. Pegal sekali setelah berjalan sekitar 10 km seharian. Malamnya, aku hanya keluar sebentar, mengantar teman yang menginap di homestay yang sama untuk mencari Atm. kita jalan ke Legian. Setelah menemukan Atm, kita makan -ditraktir, jadi aku nggak bayar dan kembali lagi ke homestay. Aku benar - benar ingin segera tidur.
Share:

Selasa, 28 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 3 - AKHIRNYA BALI

Tanggal 17 Agustus - Pagi




Keluar dari pelabuhan, sudah ada calo bus. Kebetulan di belakangku ada sepasang kekasih yang juga turun kadi kapal dan mau menuju Denpasar. Mereka yang menawar harga bus 40.000 untuk sampai ke terminal ubung. Aku tinggal ikut - ikutan saja. Ku pikir, bus yang akan mengantarkan perjalanan selama kurang - lebih 4 jam ini adalah bus besar yang seukuran AKAP (maaf ya, aku kurang tau ukuran bus) ternyata bus kecil satu pintu.



Selama perjalanan sudah mulai gerimis dan hujan. Kutanya pada kondektur berapa lama lagi kita sampai. Katanya kalau lancar sekitar 2 Jam lagi. Tapi beberapa menit kemudian, bus berhenti. Si kondektur meminta semua penumpang turun dan pindah ke bus lain karena busnya rusak dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah pindah bus, aku lupa. sepertinya aku lebih banyak tidur hingga sampai ke terminal ubung.



Keluar dari terminal ubung gerimis. Aku keluar dari terminal lalu menyebrang jalan raya untuk sampai ke Alfamart. Aku hanya membeli permen mint seharga 9.000 karena perutku terasa hampir mual. Di depan alfamart ternyata juga ada beberapa supir angkot dan tukang ojek yang "memaksa". Ku tanya berapa ongkosnya, masih belum ada yang memberikan angka. berbelit - belit. Lalu aku ditarik masuk ke angkot dan ditawari diantar sampai tujuanku. Setelah aku duduk baru disebutkan harganya 180.000. Akupun menolak keluar, tapi masih terus di paksa dengan menurunkan harga. Akhirnya supir angkot itu menyerah, dan bilang bisa naik angkotnya sampai Tegal dengan membayar 20.000. Karena memang sudah ilfeel (dan takut) dengan tawaran - tawaran sebelumnya, akhirnya aku setuju. Sampai di Tegal aku lihat ada Alfamidi. Aku mampir membeli air mineral seharga 2.500 karena air minumku sudah habis. Selanjutnya aku naik angkot lagi menuju Kuta dengan biaya 10.000. Aku turun dekat Pos polisi Jl. Raya kuta, lalu jalan sekitar 10 menit hingga sampai di tempatku menginap, Gong Corner Homestay. Di jalan, ada penjual piscok - jajanan terfavorit. jadi mampir beli dulu. Harganya seribuan, aku beli 5.



Aku langsung check in, mandi, dan istirahat sebentar. Sekitar jam 3 sore, suara hujan sudah tak terdengar lagi. aku memutuskan keluar untuk jalan - jalan. Sebelum sampai di monumen bom bali, hujan mendadak deras lagi. aku menepi di depan counter hp. agak lama menunggu, hujan tidak juga reda. Tanggung kalau mau balik ke penginapan lagi. Iseng - iseng tanya penjaga counter, ternyata disitu juga jual payung. Ajaib! Dengan ekspresi sedikit bingung, tercengang, dan bahagia, akhirnya aku membeli payung seharga 25.000 di counter hp.



Jalan kaki sambil ngomong dalam hati "oh, ini to legian. ini to monumen bom bali, poppies lane, pantai kuta, cafe dulang, beachwalk, dan tempat - tempat lain di sekitarnya yang dulu pernah ku dengar dari cerita." Norak ya ? salah satu hal yang ku perhatikan adalah kotanya padat banget. sampai - sampai gang - gang kecil saja ramai dengan kendaraan bermotor. karena merasa kurang nyaman saat jalan kaki, jadi kepikiran. kenapa nggak dibuat jalanan ini khusus pejalan kaki saja ? toh kenyataannya banyak sekali yang jalan kaki.



Walaupun sedang tidak dirumah, tapi maghrib aku tetep kembali ke homestay. Anak baik - baik kan aku ? sekitar jam 8 malam keluar lagi ke daerah legian, sekedar melihat - lihat budaya yang bukan aku banget. Banyak sekali wisatawan asing yang ku temui saat itu. bahkan sepertinya hampir 90%. Karena pusing sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke homestay dan tidur.
Share: