Jumat, 28 Desember 2018

KALEIDOSKOP 2018 - TARGET - TARGET MACET




Hai, apa kabar ?
Semoga jawabannya masih selalu menyenangkan. Nggak terasa ya, 2018 hampir usai. Gimana pencapaian kamu sepanjang tahun ini ? kalau aku, bucket list yang kubuat awal tahun lalu hanya seperti asap knalpot yang menguap. Nggak pernah terbaca sepanjang tahun, ketemu lagi baru akhir tahun ini. akan ku ceritakan beberapa target 2018 yang tak ku perdulikan itu. Oiya, aku lebih suka menyebutnya target, bukan harapan karena kesannya kalau target aku akan lebih berusaha untuk mencapai. Ya walaupun pada kenyataannya, nggak terlaksana juga.

Kita mulai dari target pertama yaitu mengunjungi semua kota dan kabupaten di Jawa Tengah dan masing - masing 5 kota baru di Jawa ke arah barat dan timur, Bali, dan Lombok.  Kelihatannya cuma 'segitu doang' tapi kenyataannya karena berbagai macam alasan, Jawa tengah saja belum rampung. sampai hari ini, tepatnya 3 hari terakhir di 2018 aku masih belum ke Blora dan Pemalang. Ke arah barat aku baru menjajaki 1 kota baru yaitu Bogor, dan ke Jawa timur aku belum mencoret satupun kota atau kabupaten. Baru Bali yang tercoret, itupun aku hanya ke Kuta. Sepertinya tahun depan aku harus memecah target Bali menjadi lebih detail per kabupatennya deh. Lombok juga belum kesampaian. alasannya karena waktu itu ada gempa dahsyat padahal mah karena miskin aja.

Tahun 2018 ini aku juga mulai mengurangi main instagram karena pernah ada yang memberikanku kritik yang benar - benar membuat sakit hati, kurang lebih ucapannya begini "teman kelihatannya banyak, tapi nggak ada yang nyata." Wah, rasanya seberti ada bom yang meledak di hati. Jadi salah satu targetku yang kutulis adalah teman baru setiap hari. Karena untuk kenalan dan mulai berteman dengan orang baru setiap hari rasanya tidak memungkinkan terlebih karena weekdays aku bekerja, aku akumulasikan sendiri saja. kalau sehari bertemu 1 teman baru, jadi di akhir tahun aku harus punya 365 teman baru. jadi di akhir pekan aku giat mencari teman baru, mulai dari kenalan dengan orang yang ditemui di tempat wisata terus diajak jalan bareng, sampai ikut beberapa komunitas. Sekarang, entah berapa banyak teman baru yang baru ku kenal sejak awal 2018 ini, tapi sepertinya sudah mencapai target. Kalaupun belum, bagian ini aku tidak menyesal karena target tahun depan akan ada lagi.

Kalau perihal romansa, masih sama. sempat di sekitar pertengahan tahun lalu aku dibuai cinta buta. Eh, tapi emang semua cinta bikin buta nggak sih ? Saking butanya, aku bisa naik motor sehari lebih dari 100 Km cuma demi makan bareng, ngobrol sebentar, udah. Terus dengan santainya aku selalu bilang "Nggak masalah, deket kok. Udah biasa". Sekarang aku pengen ngatain diriku sendiri nih. "Deket matamu! nggak ingat kau, waktu dipaksakan motoran berangkat pagi padahal lagi flu, naik motoran jarak lumayan jauh dengan rantai dan ban motor yang sudah aus yang membuat deg - degan sepanjang jalan, berangkat pagi pulang malam, Hampir pingsan waktu diajak jalan seharian, dan hal - hal menggelikan lainnya." Tapi, jujur saja. Terimakasih untuk kamu, salah satu orang yang mendukungku punya banyak teman baru. 

Apalagi ya yang perlu dibahas ? 
Karir ?
Nah, ini. Mungkin aku adalah orang yang paling susah bersyukur sedunia. hampir setiap hari buruk di kantor pasti pikirannya langsung kepengen resign, pindah ke perusahaan baru atau jualan kaos yang nggak laku - laku. Tapi pada akhirnya, masih selalu disadarkan bahwa aku punya kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai manusia biasa seperti kebutuhan sehari - hari dan tiket perjalanan. Jadi sampai sekarang aku masih bekerja diperusahaan yang sama. Sepertinya sekitar pertengahan tahun lalu aku masih sangat terobsesi pindah ke Surabaya, tapi karena keluarga dan teman - teman bilang bahwa Surabaya dianggap terlalu keras. Tambah angin saja 4000 katanya. Bikin cepat miskin.

Saat 2018 hampir berakhir ini, ada juga kekecewaan lain yang kualami yaitu batal berencana nyabrang di prapatan Shibuya. Nah, bingung bukan ? baru rencana, sudah gagal. Jadi ceritanya sekitar pertengahan tahun lalu aku merencanakan untuk berangkat ke jepang tahun depan. Tapi di awal Desember ini sudah mendapat kabar bahwa rencana itu harus gagal. Jadi selamat tinggal Jepang. Semoga suatu saat nanti bisa terealisasi, Amin.

Sepertinya cukup segitu dulu ceritaku, akan kusambung lagi lain waktu. Kalau kamu, suka buat semacam resolusi setiap tahun tidak ? ceritain dong resolusimu yang menarik, kali aja aku bisa ikut - ikutan

Salam sayang,
Oktaffyani
Share:

Minggu, 09 Desember 2018

MENYAPA MANUSIA DIBALIK SOCIAL MEDIA - DAY 2

pic by @dhyto_malfiun1

Selamat Pagi..
Segar rasanya bagun pagi langsung melihat pemandangan pegunungan dengan kabut tipis. Saat keluar tenda ada beberapa yang sudah asyik bermain bola, menyeduh kopi dan popmie, pergi ke kamar mandi, dan hunting foto. Aku termasuk yang bangun paling akhir. Setelah bangun aku dan beberapa teman lain menuju kamar mandi. Tentu saja aku tidak mandi, hanya buang air, cuci muka dan gosok gigi. nah, ini masalahnya. Hanya itu sumber air terdekat. Pertama, cuci muka, Masih nggak masalah. lalu gosok gigi, muntah - muntah. Airnya bercampur dengan rasa asam yang mungkin dari belerang. Huh! Mati keracunan nggak ya ? untungnya di bangku depan kamar mandi aku menemukan aqua yang entah punya siapa. setelah tak lihat air itu jernih, berbeda dari yang ada di kamar mandi, aku memutuskan untuk berkumur dengan air itu. Dear, Kamu yang kehilangan sebotol aqua, maaf ya. 


Pagi dimulai dengan bercengkerama dengan teman - teman, beberapa ada yang masih sibuk hunting foto untuk konten instagram masing - masing. Lalu panitia bagian konsumsi mengumumkan bahwa sarapan sudah siap. aku mengambil roti dan kopi. Beberapa  waktu kemudian semua peserta berkumpul untuk mulai acara.


Pic By@alviannega__

Dimulai dengan Streching badan, lalu games dimulai. Seru sekali! peserta dibagi menjadi beberapa tim. Timku berisikan 6 orang. Games pertama, setiap tim diminta berbaris untuk mengapit balon membentuk seperti ular, lalu jalan sampai garis finish. Meriah sekali teriakan dari para peserta. Dua balon di timku pecah saat baru satu langkah dari start, 2 balonnya terjatuh, hanya tersisa 2 yang masih utuh. karena sudah pasti kalah, aku melepas jarum yang kugunakan di jilbab untuk meletuskan balon yang kupengang sambil tertawa terbahak - bahak. Jadi di timku, hanya tersisa 1 balon yang utuh dan kita tidak beranjak dari garis start. 


Pic By@alviannega__

Games kedua, paling seru. Setiap tim dibekali satu warna bubuk holi powder untuk menyerang tim lain. Peraturannya sederhana, tim yang paling tidak banyak kena serangan adalah pemenang, dinilai dari kebersihan baju yang dipakai. Setelah Juri teriak "Mulai" semua orang mulai menyerang. entah mana kawan mana lawan, semua orang melemparkan powder yang dibawa dan berlarian menghindar. Aku lumayan banyak terkena serangan dari depan dan tikungan dari belakang. Hasilnya, semua peserta jadi berwarna - warni, baik baju maupun mukanya.


Pic By@alviannega__

Games ketiga, salah satu anggota tim diminta melepas baju untuk dijadikan seperti nampan yang digunakan untuk membawa segelas air dari garis start sampai finish. kelihatannya sederhana, kalau pakai nampan yang bawahnya kaku. tapi ini kaos, yang tentunya akan lebih susah.

Pic By@alviannega__


Games terakhir, para tiap tim diminta duduk berbaris dan melingkari ember yang ada ditengah. yang duduk paling depan harus berebutan mengambil air dengan piring lalu mengoper ke belakang lewat atas kepala. Yang paling belakang mengumpulkan airnya. Nah, Parahnya, Embernya kecil, jadi harus berebutan dengan tim lain dan saat mengangkat piring ke atas kepala airnya tumpah. Hasilnya, badan basah kuyup karena kelakuan sendiri.

Pic By@alviannega__


Setelah keseruan games, kita membagikan doorprice dan foto bersama. Selanjutnya tinggal membereskan tenda dan berpisah. Beberapa ada yang berganti pakaian karena baju yang kita gunakan kotor. Kalau aku, nekad pulang dengan baju dan bahkan muka yang masih kotor. 

Yang aku suka dari acara - acara seperti ini adalah kebersamaannya. Aku bertemu banyak teman baru, bisa tertawa bersama, dan memaksaku berolahraga dengan bahagia. Aku adalah orang paling malas berolahraga, tapi bisa dihitung berapa banyak kalori dan lemak - lemak jenuh yang terbakar kemarin, mulai dari perjalanan yang menguras tenaga hingga games yang mengasyikkan. Dan yang paling penting aku bisa lepas dari sibuk menggunakan Hp.

Kalau kamu, bagaimana cerita bahagiamu ?

Share:

MENYAPA MANUSIA DIBALIK SOCIAL MEDIA - DAY 1




Akhir pekan adalah waktu yang paling ku nantikan apalagi sejak ribetnya persiapan audit di kantor akhir - akhir ini. Tanggal 8 Desember 2018 memang sudah direncanakan sekitar sebulan sebelumnya untuk acara meet up camp Travel Culture Indonesia yang berlokasi di Candi Gedong Songo.

Biar ku perkenalkan sedikit dulu tentang Travel Culture Indonesia atau yang biasa kita singkat TCI. Ini adalah komunitas para instagram traveler. Sejauh ini membernya adalah para travel instagramer dari Jateng & DIY. Selama ini kita hanya bertegur sapa lewat sosial media. Diadakan acara ini agar bisa saling mengenal tak hanya lewat dunia maya.

Kita mulai cerita keseruan acaranya

Tanggal 8 Desember pagi hari, aku bangun jam 4 Pagi saking semangatnya. Padahal alarm di hp ku set pukul 05.30 dan kalau hari sabtu biasanya aku hobi memencet tombol snooze  berulang kali. Aku langsung bangun dan mengemas barang - barang yang akan ku bawa, mulai dari sleeping bag, baju ganti, sandal, sepatu, jaket, dll sampai tasku penuh.

Mempertimbangkan lokasi yang berada di gunung dan area wisata plus musim hujan, (sepertinya) untuk pertama kalinya aku minta di jemput di kos dan tidak membawa motor sendiri. Untungnya member lain berbaik hati mau jemput. Sekitar pukul 12 siang, aku mendapat pesan WA "halo, pesanan gojek atas nama okta sudah sampai di depan kos" dari akun WA bernamakan  Mbak Rizka. Pas keluar, yang jemput mas - mas bertiga. Kalimat yang langsung muncul adalah "Oh.. Rizka nama pacarnya ya mas ?" dia jawab, memang itu nama pemberian orang tuanya. -Oh, Maaf.

Singkat cerita, kita berangkat ke meeting point di pom bandungan. Sampai sana sudah ada beberapa orang lain yang sudah datang. sambil menunggu yang belum datang, kita ngobrol - ngobrol dan saling berkenalan. Tiba - tiba, Hujan datang. Waduh, gimana mau camping kalau hujan begini ? pikirku. Tapi untungnya beberapa yang lain menenangkan, dan semoga hujannya berhenti sore ini agar malam nanti dan besok pagi acara kita berlangsung lancar. Hujan agak mereda dan beberapa peserta masih belum datang ke meepo. akhirnya kita yang sudah ada berencana berangkat dulu dan 2 / 3 orang saja yag menunggu peserta yang belum datang.

Saat sudah memakai helm dan bersiap berangkat, hujan datang lagi! huh. kita kembali berteduh dan batal berangkat. Sudah 2 kali seperti itu, sampai akhirnya nekad menerobos hujan. Akhirnya rombongan sampai di Candi Gedong Songo. Setelah panitia mengurusi tiket, kita masuk untuk menuju lapangan yang berada diantara candi 4 dan candi 5.dari loket maju sekitar 200 meter saja sudah sampai di candi pertama. Ku perkirakan untuk sampai di candi 5 hanya perlu berjalan 5 kali lipat dari ini.



Dari candi 1 maju terus, ada persimpangan belok kiri. Setelah belokan ini, lumayan sepi berbeda dengan area Ayana dan sekitar candi 1. mengikuti jalan ini, terlihat jalanan menurun dan agak berbelok. Mungkin lokasinya dibawah situ, pikirku. Ternyata salah, disitu hanya ada toilet umum. Terlihat jalanan di depan indah sekali, tangga Tinggi menjulang dan berkelok - kelok seperti di drama - drama korea, atau tembok cina di bayanganku. Wah, salut sama yang memilih lokasi dengan pemandangan seperti ini, kataku dalam hati. 

Aku berjalan sendiri karena teman - teman lain berjalan lumayan cepat dan aku tidak bisa mengikuti. Sebetulnya mereka baik, mau menunggu. Tapi kasian juga kalau mereka memaksakan pelan. Jadi mereka jalan lebih dulu. lagipula kupikir tadi masih ada rombongan lain yang dibelakangku, pasti nanti akan menyusul. Ternyata rombongan yang dibelakangku lewat jalur lain. Shit Lah!

Terdengar teriakan dari jauh "Okta..ayo semangat!" kutengok kanan - kiri, belakang nggak ada orang. ternyata suara itu berasal dari Mas Dhef, Elys, dan Wisna yang sudah berada di setengah bagian tangga yang kuceritakan tadi. harus jalan sampai sana ? Kakiku mendadak lemas. Balik aja deh! -inginnya. Tapi akhirnya aku memaksakan untuk terus jalan. Mereka menunggu hinga aku sampai baru kita melanjutkan perjalanan. Tujuan kita berada di balik bukit itu. Jadi kita harus sampai puncak,  lalu belok kanan dan mengikuti turunan baru sampai. Saking lemahnya, sampai sampai barang bawaan dan tasku dibantu dibawakan. Jadi aku naik tidak membawa barang apapun. Itupun, jalanku masih palig lambat. 

Singkat cerita, setelah lama sekali jalan dan berasa hampir mati kehabisan napas, kita sampai di camp area. Sudah ada beberapa yang datang dan bersiap - siap mendirikan tenda, menyiapkan makanan, membuat api unggun, dll. Setelah istirahat sejanak aku membantu membangun tenda, sekalian latihan membangun rumah tangga. Eh, salah. latihan membangun tenda juga maksudnya. kali aja kedepannya mau camping sendiri kan ?



Tak terasa, maghrib tiba. kita berombongan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Kita harus jalan menuruni bukit lalu sedikit naik bukit lagi untuk sampai ke kamar mandi terdekat dengan hanya mengandalkan senter karena tidak ada lampu jalan. Bahkan di kamar mandinya pun tak ada penerangan sama sekali. Setelah buang air, wudhu, dll, kita kembali jalan ke area camp untuk sholat. Jujur, rasanya menyenangkan dan menenangkan sholat dengan udara dingin di alam terbuka. Didepannya hutan dengan suara angin yang berhembus dan udara dingin. Lebih berasa dekat dengan Tuhan.

Setelah itu, aku hendak membatu tim konsumsi yang sedang bekerja menyiapkan makan malam untuk kita semua, tapi sepertinya aku hanya merepotkan. Lalu aku berpindah ke api unggun untuk menghangatkan badan. Beberapa orang juga ke api unggun untuk menghangatkan badan. Tim konsumsi masih sibuk bekerja di dapur, lalu tim acara meminta semua peserta berkumpul ke api unggun untuk memulai perkenalan. Malam itu, terungkaplah semua wajah asli dibalik akun instagram dan akun WA yang selama ini saling bertegur sapa dalam sosial media. Setelah berkenalan dilanjut acara sharing dan pemberian beberapa penghargaan. sayang, dari beberapa kategori, satupun aku tak menang.

Karena terlihat semua orang sudah kelaparan, dan makanan sudah siap, kita langsung makan malam bersama sambil ngobrol - ngobrol sambil berharap mendapatkan jodoh ilmu - ilmu baru. Selesai makan, acaranya bebas. Beberapa ada yang bernyanyi - nyanyi dengan gitar yang senarnya putus satu tapi tetap asyik, ada yang memasak cemilan, membuat kopi, main kartu, dan ada juga yang langsung tidur. Aku ? aku mencoba ikut menyanyi nyanyi, tapi takut suaraku akan menambah 3 senar lain putus. Mencoba ikut menggoreng camilan takut gosong, jadi ikut makan saja. Membantu membuat kopi, sudah jadi tinggal minum. Mau ikut main kartu, nggak bisa. Jadi aku tidur saja. Walaupun sebenarnya hanya untuk meluruskan kaki dan memejamkan mata, pikiran masih kemana - mana.

Nah, karena ceritanya lumayan panjang, jadi untuk part 2 bisa lanjut baca disini


Share:

Selasa, 20 November 2018

BUDAK INSTAGRAM



Tadinya, kisahku dengan instagram ibarat kisah cinta yang enggan berakhir meski hanya begitu - begitu saja. Lalu pada suatu ketika aku sedang asyik nongkrong di sebuah kafe yang "instagramable" dengan seorang teman. Setelah memesan beberapa menu aku menyiapkan peralatan perang seperti kamera, handphone, beberapa additional property, lalu merapikan meja sesuai keinginanku difoto.

Setelah makanan atau minuman yang kupesan datang, aku meletakkan di posisi yang sudah ku persiapkan lalu mulai mengarahkan kamera ke objek dan mulai memencet shutter beberapa kali sampai bosan, baru mempersilahkan untuk makan. Setelah selesai menyantap makanan di meja, giliran manusianya yang di jepret sana sini dengan background beberapa spot "lucu" di kafe tersebut. Setelah dirasa cukup, kita mulai beres - beres dan pulang.

Di Jalan pulang biasanya kita sambil ngobrol banyak hal. Dari mulai obrolan receh hingga kadang berita politik yang sedang panas. Kebetulan hari itu, diatas motor temanku bertanya
"Capek nggak sih pura - pura 'hidup' di instagram ?"
Pertanyaan itu seperti bom nuklir yang diledakkan tepat di ulu hatiku. Siapa juga yang pura - pura ? Tapi aku menjawabnya dengan sok tenang
"Kita kan menampilkan apa adanya. seperti hari ini, foto yang kita unggah adalah hasil foto dari kita benar - benar mengunjungi tempat tadi." Jawabku.
Argumenku tidak didebat terlalu panjang olehnya, kita berpisah dengan baik - baik saja. Obrolan tadi hanya seperti angin lalu baginya. Tapi menyebalkannya, aku terus - terusan kepikiran, bahkan sampai hari ini.

Sebetulnya kalau dipikir - pikir lagi memang banyak sekali pertanyaan serupa sebelum itu yang sering dilontarkan kepadaku, hanya saja yang lain berlalu seiring berjalannya waktu. entah bagaimana dan kenapa yang satu ini sangat mengusik. Hatiku mulai berubah, aku goyah.
Ku ingat - ingat lagi saat pertama kali menggunakan aplikasi Instagram, apa yang membuatku bahagia ? Jawabannya adalah karena aku bisa sharing foto sesuka hati. anggap saja seperti album foto yang diperlihatkan ke seorang teman. Selanjutnya, apa yang membuat bosan ? Karena ketulusannya sudah hilang. Aku yang tadinya mengunggah foto karena suka dan membuat diri sendiri bahagia tanpa terasa menjadi seolah dibudakkan oleh diri sendiri.

Dalam penggunaan instagram, dengan atau tanpa disadari kita mengamalkan teori tindakan sosial seperti yang disebutkan Max Weber. Ada 4 kategori tindakan sosial, salah satunya kategori tindakan rasionalitas instrumen. Dalam kategori itu menyebutkan bahwa segala tindakan seseorang didasari pertimbangan untuk mencapai tujuan. Apa tujuan kebanyakan orang sepertiku menggunakan instagram ? apalagi selain membuat aku yang bukan siapa - siapa menjadi pusat perhatian didunia maya. Sebetulnya bukan hanya instagram, tapi kebetulan yang kugunakan sampai berlebihan saat itu adalah instagram. Padahal sebetulnya tidak semua orang memiliki pesona untuk menjadi pusat perhatian. Seperti aku sendiri misalnya. Aku ini siapa ? artis bukan, tokoh juga bukan. Ujung - ujungnya kebanyakan pengguna hanya mengikuti formulasi yang sudah berjuta - juta kali dilakukan. Gimana nggak bosan coba ?

Mulai dari fitur postnya. Dulu awal suka dengan instagram karena tampilan visualnya menarik, rapi, berbeda dengan facebook yang waktu itu ku tinggalkan. Ada beberapa efek foto yang bisa digunakan tanpa aplikasi editing tambahan. namun seiring bertambahnya waktu, para pengguna mulai berimprovisasi dan instagram notice sehingga instagram sendiri juga berimprovisasi untuk memenuhi kebutuhan dan memfasilitasi keinginan penggunanya.
Pelan - pelan instagram menjadi ajang pamer kemewahan. bagi pengguna yang kelewat kecanduan tapi tidak ada hal mewah yang bisa dipamerkan, mereka membuat istilah sendiri 'instagramable'. setelah itulah aku merasa instagram mulai membosankan. Semua orang berlomba - lomba mengikuti tren. saat tren foto dihutan pinus, semua orang berbondong - bondong ke hutan pinus agar terlihat seperti pecinta alam. Saat tren foto di gunung, tiba - tiba muncul banyak sekali pendaki dadakan yang naik gunung demi mengambil foto dengan membawa secarik kertas bertuliskan "hey kamu, kapan kesini ? -nama gunung, ketinggian mdpl". saat tren pameran maka berfotolah mereka disana tanpa memikirkan jerih payah senimannya. bahkan urusan traveling pun harus dibumbui kriteria instagramable.
Ini mau liburan atau budak feed instagram sih ?

Pada akhirnya aku capek sendiri dan memutuskan untuk berhenti. Aplikasi di uninstall dan mulai berteman secara nyata. Kebetulan saat itu aku sedang merencanakan tugas akhir. karena masalah perasaan pribadi itu aku memutuskan untuk membahas keresahanku tentang instagram . Untungnya dosen menyetujui. -yang ini nggak perlu dibahas.

Sejak melepaskan diri dari jeratan budak instagram, aku mulai memberanikan diri untuk mulai berteman dengan manusia yang sesungguhnya didunia nyata. Pertama kali memulai berkenalan betul - betul bagai katak dalam tempurung. Selama ini ternyata aku terlalu 'hidup' di dunia maya dan 'mati' di dunia nyata.  saat itu temanku didunia maya ada 12.000 pengguna, sedangkan teman di dunia nyata hanya ada 12 orang. Jomplang.

Awal tahun 2018, seperti manusia pada umumnya aku membuat resolusi, salah satunya adalah "bertemu  1 teman baru setiap hari". karena keterbatasan kerja dan lain - lain, aku total saja menjadi satu tahun ada 365 hari, jadi tahun ini minimal bertemu dengan 365 teman baru. Pertama kali kenalan dan berjabat tangan pasti grogi, takut, dan bingung apa yang mau dibicarakan. sampai akhirnya perlahan mulai berani dan teman didunia nyata mulai bertambah sedikit demi sedikit.  Akan tetapi karena jarak tempat tinggal dengan teman - teman baru cukup jauh, mau tidak mau kita gunakan media sosial (lagi) untuk berkomunikasi.

Dari situlah perasaan cintaku pada instagram mulai kembali. Setelah dulu sempat menjadi 'budak' instagram sekarang mulai merajut kembali perasaan bahagia berselancar di instagram. Instagram saat ini bagiku bukan lagi sebagai ajang pamer dan rejeki tambahan. Aku pun mulai melakukan sedikit detoksifikasi dengan cara unfollow orang - orang yang tidak ku kenal secara langsung, yang dulu asal follow demi terlihat banyak teman, termasuk akun - akun yang kurasa tidak sesuai dengan kriteriaku. Memangnya bagaimana kriteriaku ? sederhana saja, yang unggahannya membuatku bahagia saat melihatnya. Selain itu juga membersihkan followers buzzer dan yang menurutku 'sampah'.
dengan begini, perlahan lahan aku sudah mulai hidup kembali baik di dunia maya maupun dunia nyata. Tentu dengan porsi yang jauh lebih imbang daripada sebelumnya.

Nah, itu tadi ceritaku tentang instagram yang isinya semacam podcast tapi tertulis karena mau ngomong langsung suaraku cempreng. Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini, semoga teman - teman mencintai instagram dan media sosial lain dengan tulus, jangan berlebihan sampai menjadi 'budak' sepertikku.
Share:

Senin, 05 November 2018

AGAMA - BUKAN BAHAN BERCANDA

Dari lahir saya beragama islam. TK di Aisiyah, SD Muhammadiyah, SMP swasta tapi teman - teman saya juga islam, SMK Muhammadiyah lagi, Lalu kuliah di swasta. Dari lahir sampai SMK, lingkungan saya islam semua. Barulah ketika saya kuliah banyak bertemu teman - teman beda agama yang membuat pemikiran saya lebih terbuka.
Sebelumnya, karena intensitas bertemu orang yang berbeda agama saya sangat rendah, saya biasanya merasa deg - degan ketika bertemu dengan orang lain yang agamanya berbeda. Takut murtad dengan sendirinya. Sejak kecil saya dibiasakan untuk menghindari menyebut agama lain kecuali pas pelajaran IPS, ikon agama lain, ataupun tokoh - tokohnya. kalaupun terpaksa menyebutkan, harus dengan berbisik atau menggunakan kode. Misal menyebutkan anjing, dengan kata guguk, dll.
Lucunya,  saya pernah diberi sugesti oleh salah seorang tetangga saya untuk tidak melihat salib dalam bentuk apapun baik dari gambar, kalung, ataupun salib yang dipasang di depan gereja karena akan menimbulkan sakit kepala dan mual mual. Solusinya, kalau sudah terlanjur melihat harus makan apel hijau untuk meredakan pusing atau mual yang dialami. Sejak saat itu saya selalu takut dan merasa bersalah kepada diri sendiri kalau tidak sengaja melihat salib. Apalagi bercanda soal agama lain, selain tidak ada referensi, tidak ada sasaran yang mendengarkan juga.
Setelah kuliah barulah saya memiliki beberapa teman yang berbeda keyakinan. Awalnya agak canggung, akan tetapi lama kelamaan merasa terbiasa juga. Satu hal yang saya pelajari, mereka biasa saja. Mereka juga sama, makan nasi dan bisa bertoleransi. Pernah suatu ketika saya pergi berdua dengan seorang teman katholik ke sebuah desa kecil yang warganya muslim semua. Saat saya sholat di masjid, teman saya menunggu di depan. seorang ibu paruh baya menghampirinya dan mengajak ngobrol. Warga disana memang rata - rata ramah semua. Saat saya selesai sholat, ibu tadi pergi. saya bertanya kepada teman saya ini.
"kenapa dia ?" tanyaku. Dia disini maksudnya adalah ibu tadi.
" nanyain. sedang apa ? trus tak jawab nunggu temen sholat." jawabnya. " terus dia tanya lagi, lha kamu nggak sholat mbak ? tak jawab lagi haid." lanjutnya sambil tertawa.
Saya ikut tertawa kecil.
Dalam situasi ini saya tidak menyalahkan teman saya karena berbohong. Mengingat warga disana muslim semua, mungkin secara tidak sadar dia mencari aman daripada menimbulkan perasaan yang kurang nyaman kepada ibu tadi jika tau bahwa yang diajak ngobrol beda keyakinan.
Semakin kesini, saya semakin terbiasa berteman dengan non islam. Kami masih tetap bisa bercanda dan bercandaan kami aman - aman saja, tidak pernah menjadi sengketa.
sampai beberapa waktu lalu ada dua orang yang menurut saya adalah salah satu toleransi yang bisa dijadikan contoh, karena keduanya terlihat tidak pernah mendebatkan kalau agama yang dia anut paling benar. Kini, dua orang itu dituduh melakukan penistaan agama karena memasak dengan mengkombinasikan bahan halal dan haram dalam islam, Coki - Muslim.
Saya menonton video yang katanya lumayan mengundang perdebatan warga net tentang benar atau salahnya konten tersebut. Jujur, saya malah tertawa terbahak - bahak saat menonton video yang diunggah di channel Tretan Universe itu. Justru saya malah tidak tertawa dengan lawakan yang akhir - akhir ini populer yang bercandanya satu grup, bergantian memberikan argumen yang dianggap lucu lalu teman - teman dibelakangnya menyoraki. Saya bengong sambil bertanya - tanya lucunya dimana ?
Saya menonton ulag video Muslim yang jadi perdebatan itu, dan masih tertawa lagi. Penistaannya dimana ? kalaupun ada kasus penistaan agama, justru menurut saya yang berhak tersinggung adalah Coki saat di awal video Muslim bilang "Neraka, nekara, api neraka, babi ini neraka". kalau bersifat menjatuhkan, dengan kalimat yang dilontarkan muslim tersebut bukankah harusnya Coki yang tersinggung ?
Sebetulnya ketakutan apa yang dirasakan orang - orang yang menganggap itu adalah penistaan agama ? Agama tidak berkurang nilainya apalagi berkurang kebenarannya oleh persepsi yang dibuat manusia. Belum pernah saya mendengar ada orang berpindah agama karena agama sebelumnya dijadikan bahan bercandaan. Tapi kalaupun ada, saya yakin bukan agamanya yang salah, melainkan orang itu yang imannya lemah.
Saya pernah membaca, tapi lupa sumbernya yang menyatakan bahwa beberapa komedi termasuk yang menggunakan sarkas menunjukkan fungsi sosial untuk memecahkan tabu yang menghambat komunikasi antar manusia. Beberapa lawakan soal agama mungkin memang bisa menimbulkan prasangka buruk, tapi jika konteksnya tepat justru lawakan itu bisa mempererat ikatan sosial. Lawakan yang berhasil adalah ketika yang melontarkan pernyataan tidak perlu menjelaskan, audien sudah bisa tertawa. tanpa disadari berarti audien mengakui mereka juga memiliki keresahan dan pemahaman yang sama dengan si pelawak. Bukankah kalau sudah sama - sama sepaham, manusia bisa lebih akrab ?
Share:

Kamis, 18 Oktober 2018

MAKLUM, NAMANYA JUGA BAHAGIA

Sekitar akhir September 2018 lalu, tepatnya entah tanggal 26 atau 27 aku lupa karena terlalu biasa. bukan hari yang spesial sehingga lekat dalam dalam ingatan. Bangun pagi, siap - siap berangkat kerja - seperti biasa. 

Sampai di kantor, kebiasaanku masih sama sejak sekitar 2 tahun terakhir. menyiapkan goodday moccacino di meja, menyalakan komputer dan wifi, buka aplikasi youtube di hp untuk memutar lagu. Kenapa tidak menggunakan aplikasi pemutar lagu ? pernah, tapi tak uninstall karena sayang memory hp bututnya. Karena kantorku sepi, jadi hampir setiap hari kebiasaan memutar youtube nggak bisa dihindari, Biar nggak terlalu sepi.

Biasanya di pagi hari, aku akan play videonya Eclat, Meisandria Guitara, atau Alffyrev. Aku nggak pernah update soal lagu baru atau lagu yang sedang hits di Indonesia kalau diantara mereka bertiga nggak upload cover lagunya. Serius, Se norak itu ! 

Pagi itu, sambil mendengarkan lagu Senyum ku yang dulu karya Willy Anggawinata (salah satu personel eclat juga) aku scrolling instagram. untungnya algoritma instagram menempatkan story orang - orang yang biasa di cari berada di halaman depan. kebetulan, akun orang yang paling ku idolakan di Eclat -Yosua gunawan ada diurutan paling perama story instagram. isi storynya pamflet Roadshow Youtube Fanfest Indonesia, dan Eclat akan manggung di Hartono Mall sabtu besok! -dan Non ticketed.
Wah, Langsung bahagia seketika, lalu lupa kerja.



Jumat Sore, setelah jam kerja usai, aku langsung pulang ke Magelang naik motor kesayangan. Aku berangkat dari kantor pukul 05.00 sore, pas sampai jalan lingkar Ambarawa sekitar rawa pening, aku disuguhi sunset yang terlihat lebih indah dari biasanya. Atau mungkin karena aku sedang bahagia? Singkat cerita aku sampai rumah dengan selamat dan tak ada yang begitu special di rumah.

Keesokan harinya, cek di Instagram dengan susah payah karena signal dirumah amat sangat susah. Terlihat story dari Louis Xander Liang, guitaris Eclat yang curhat ketinggalan pesawat ke Jogja. Sambil senyum senyum sendiri ku bilang dalam hati "Halah, paling gimmick buat surprise fans yang di Jogja."

Selisih beberapa story selanjutnya, Willy Anggawinata juga upload story yang menceritakan bahwa mereka beneran ketinggalan pesawat. Aku terbengong dengan muka bego sebentar. Yah, kalau Eclat batal ke Jogja, rasanya sia - sia dong kemarin motoran Semarang - Magelang macet - macetan 2.5 Jam. Aku terus pantau storynya, sampai sekitar setengah 12, kalau tidak salah akhirnya Louis update instastory lagi mengabarkan bahwa Eclat jadi berangkat ke Jogja. Aku lagsung siap - siap berangkat juga ke Jogja naik motor kesayangan lagi, sendiri lagi. Biasanya juga begitu. 

Perjalanan yang biasanya hanya satu jam juga jadi lebih 30 menit karena macet. "Kenapa sih orang lain mau panas - panasan keluar rumah di siang hari yang terik begini ? Kalian dirumah aja, biar jalanannya lengang, biar aku saja yang hitam kepanasan." Gerutuku



Sampainya di Hartono Mall, muter - muter nyari venue Youtube Fanfestnya. Untungnya pengdengaranku hari itu sedang baik. aku mengikuti arah suara yang kuduga dari acara itu, dan akhirnya benar. Ketemu! 



Masuk Acaranya, masih acara yang aku nggak peduli aku kurang tahu, tapi terlihat dipanggung Loius sepertinya sedang check sound  (atau check guitar?)  entahlah. Ya maksudku itu! Di Jadwal, masih ada sekitar 30 menit lagi eclat tampil. iseng - iseng ngintip backstage sebelah kiri, nggak ada yang menarik. lalu ke sebelah kanan, Terlihat beberapa orang mengenakan jaket bertuliskan YTFFID, lalu Jefta Jason keluar dari sebuah pintu. Eh, pintunya memang hanya satu itu. Berarti kemungkinan besar teman - teman eclat yang lain juga didalam sana. 



Benar saja, selang beberapa detik kemudian terlihat Yosua. Tiba tiba nafasku agak sesak, jantungku berdebar kencang, tanganku gemetaran saking bahagianya. Terlihat berlebihan ya ? tapi serius. Reaksiku memang selalu lebih heboh dari kalian kan ? 

Oiya, kalau saat kamu membaca ini berpikir yosua ada tepat didepanku, maaf kamu salah. Mungkin karena aku yang kurang detail menceritakan. Jarak kami sekitar 5 meter, dibatasi pagar, tiang panggung, 2 security tepat didepanku, serta beberapa orang yang lewat diantara 5 meter itu. Tapi begitu saja aku sudah bahagia. beberapa kali aku mencoba mendapatkan foto wajah candid Yosua, tapi lebih banyak yang gagal. Salah satu security didepanku malah iseng beberapa kali menutupi lendaku dengan tanggannya. Aku sedikit takut kalau kameraku akan diminta dan dihapus file'nya. dengan muka cemas aku bertanya "nggak boleh foto pak ?" Jawabannya sederhana dengan tertawa "ngak boleh kalau nggak ada foto saya." Hadeh!



Beberapa waktu kemudian, Eclat bernyayi diatas panggung. Ku rasa, ini pertama kalinya aku menonton idola secara langsung. Dulu pada jamannya aku pernah mau nonton konser Pee Wee Gaskins di Semarang. Sampai di parkiran acara kulihat beberapa orang yang mabuk, dan dandanan mereka rata - rata seperti preman. Aku takut, lalu pulang. 



Setelah Eclat tampil, kulihat beberapa orang menuju belakang panggung untuk bertemu dengan idola masing - masing tentunya. Akupun berusaha menyusup ke kerumunan dan berhasil mendapatkan posisi di garda paling depan diluar batas yang diperbolehkan. Kulihat para personel eclat mengobrol dengan performer lain -para gamer yang tak ku ketahui juga. dengan semangat 45, ku arahkan kameraku ke Loius, Willy, Jefta, dan Yosua lalu memencet tombol shutter beberapa kali. Lalu, posisi yosua tepat berada didepanku tapi membelakangi. dekat sekali. Kalau mau mengulurkan tangan, aku yakin kita bisa bergandeng tangan. 



Kuberanikan diri untuk memanggil namanya sekedar untuk balasan senyum. Tak lebih. Tapi saat kupanggil, dia menengok, menyapa balik, dan bilang "nanti kesana ya (sambil menunjuk) buat foto bareng, disini nggak boleh soalnya" wah.. hatiku benar - benar merasa meleleh. Se- Lebay itu.  Setelah menunggu beberapa menit, Akhirnya eclat pergi dari backstage. Yosua memberikan kode ke beberapa orang yang mungkin tadi sudah lebih dulu menyapanya. Ah, tak kira hanya aku yang diajak.
Aku dan beberapa orang lainya mengikuti keluar gedung, lalu mengambil banyak sekali jepretan dan ngobrol sebentar. 



Diluar ekspektasiku yang berangkat dari Semarang ke Jogja hanya akan menonton berdesakan saat Willy menyanyikan lagu inikah cinta, ternyata bisa ngobrol juga.  Setelah selesai foto - foto, aku langsung pulang ke Magelang dan minggu pagi baru ke Semarang lagi. perjalanan sama sekali tidak terasa melelahkan kalau hatinya bahagia. Sepanjang jalan aku senyum - senyum sendiri hampir seperti orang gila. 
Ya, namanya juga bahagia. 

Kalau kamu bertemu idola, kira - kira gimana reaksinya ?
Share:

Selasa, 11 September 2018

I LOVE YOU, MY SELF



Pagi ini bangun tidur seperti biasa buka Hp dan baca - baca sosial media. Mulai dari Instagram sampai whatsapp. tiba - tiba ada perasaan nggak ikhlas karena kemarin aku menghapus dan mengarsipkan beberapa foto di instagram karena alasan mengikuti orang lain. Kaget sendiri saat sadar bahwa aku bisa diatur. 

Tiba - tiba teringat kalimat @iiqhue beberapa bulan lalu pas aku lagi patah hati sama orang sampai aku menjauh dari lingkaran sosial termasuk uninstall instagram yang hanya betah kurang dari seminggu. Dia bilang, labil sekali. tingkahku saat itu juga tak terkendali. Untuk mengatasi itu, aku mulai lagi dengan menyibukkan diri, bertemu banyak orang baru, mendengarkan cerita baru, membuat kenangan baru.

Pikiranku semakin penuh, kegiatan juga bertambah padat. Aku pikir dengan begitu akan membuat tidur malamku menjadi nyenyak karena fisik dan pikiranku lelah, ternyata tidak. Ini jauh lebih melelahkan. Istirahat semakin tidak teratur, makan tidak teratur, dan semakin tidak berdamai dengan diri sendiri. 

Kacau !

Sebentar, kalimat itu, "berdamai dengan diri sendiri" apakah aku sudah melakukannya ? Rasanya ini sumber masalahnya. dua tahun lalu dan sebelum - sebelumnya sepertinya aku adalah manusia paling bahagia. Itu masa - masa senang mencoba hal baru. Masa - masa nggak peduli sama sekali sama pendapat orang lain, mencintai diri sendiri, dan bahagia. 

Entah kenapa, semakin kesini rasa cinta sama diri sendiri semakin luntur, hilang. Yang ada dipikiran hanya pemikiran orang lain, takut salah dimata orang lain, takut menjadi beda. Setiap mau melakukan sesuatu mikirin dulu gimana kira - kira pendapat orang lain nanti, atau kalau sudah kelewat ceroboh sendiri jadi takut dillihat orang lain. Pada akhirnya takut buat mencoba hal - hal baru lagi dan mencari jalur aman. 

Mengingat kembali, dulu aku cinta banget sama aplikasi instagram. Buktinya, bersua dengan banyak followers dan mengingat dulu bareng - bareng gedein akun sama @iiqhue. Dari followers yang dibawah seratus sampai waktu itu sekitar 15 ribu. Saat itu, aku bahagia. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Karena aku tidak bisa mengendalikan pendapat netizen, jadinya malah aku yang kalah. Awalnya secara nggak sadar jadi mengikuti arus dan keinginan netizen. 

Hari ini, setelah ku pikir kembali itulah alasannya aku sering merasa capek sendiri. Aku lelah bertopeng, menuruti pendapat netijen. Sekarang, aku mau melepaskan jeratan tali - tali yang mengganggu pikiran itu, lalu kembali berdamai dengan diriku sendiri. memeluk hangat jiwa yang dingin ini, memberikan senyum yang rasanya sudah lama tidak mendapatkannya. 

Dear my self,
I love you.
Hari ini beban sudah dilepaskan, diikhlaskan. Jangan lagi menyakiti diri sendiri dengan pendapat orang lain. Percayalah bahwa kamu layak untuk bahagia.

Share: