Jumat, 22 Juni 2018

PULANG



Hari ini, hari pertama masuk kerja lagi setelah libur lebaran yang amat panjang. Perjalanan kemarin terasa berat, tidak seperti biasanya. Bukan karena mengendarai sepeda motor selama dua jam dengan koper yang ku ikat sekuat mungkin menggunakan rafia, tapi entah kenapa perasaanku seakan tak mau pergi lagi ke tempat perantauan.

Tiba - tiba perasaan tak nyaman menyelimuti selama perjalanan. Fokusku bukan pada jalanan yang lumayan padat karena sedang arus balik lebaran. Pikiranku melayang - layang mempertanyakan why I go to that city ? Lalu imajinasiku muncul seorang anak yang baru lulus SMK yang pindah keluar kota sendiri untuk mengejar ilmu. Anak itu masih lugu, ia berusaha sekuat tenaga sehingga dapat bertahan selama 3 tahun dan  menyelesaikan studi dengan membawa gelar cumlaude. Janji anak itu setelah menyelesaikan gelarnya adalah PULANG.

 Anak itu  adalah aku. Maka harusnya, hari ini aku tak perlu lagi kembali merantau. Terkadang pemikirankku memang masih terlalu bocah seperti ini. Bagi yang belum tahu, selama 3 tahun aku menempuh ilmu sambil bekerja dan berjanji aka resign setelah wisuda. Namun janji itu ku langgar sendiri. Hari ini aku masih berangkat untuk merantau. Dalam pikiranku saat mengendarai motor muncul banyak pertanyaan :
"Kapan aku benar - benar akan resign ?"
"Kalau sudah resign, lalu pekerjaan apa selanjutnya yang akan ku lakukan ?"
"Apakah aku akan bahagia setelah tidak menyandang gelar sebagai pegawai ?"
"Aku tak mau jadi pengangguran. lalu apa yang bisa aku lakukan ?"
Dan semacamnya.

Tak terasa, 2 jam sudah aku mengendarai sepeda motor sambil melamun. Sampailah aku di depan kos, suasananya sepi. Aku segera memarkir sepeda motor, lalu bergegas masuk ke kos - kosan yang kutinggali sejak setahun lalu ini. Sepi, hanya ada satu penghuni yang sudah berada di kos karena sudah harus bekerja. Aku langsung merebahkan punggung yang sedari tadi minta diistirahatkan. Mataku menatap plafon, kosong. Dalam pikiranku hanya ada sebuah pertanyaan "Why I am still here ?" Lamunanku terpecah. Aku harus segera mandi dan tidur, besok harus bekerja di pagi hari. 

Hari pertama bekerja setelah liburan, semua wajah terlihat sumringah kecuali aku. Sungguh, aku berharap hari ini cepat berlalu. Tidak banyak pekerjaan yang ku lakukan, hanya membereskan beberapa orderan dan pekerjaan yang ringan. Aku tidak dapat berkonsentrasi sama sekali.

Saat sudah mulai sore, sepulang kerja aku mencari teman untuk keluar, sekedar makan dan ngobrol untuk killing time. Setelah ada yang diajak, singkat cerita setelah sholat maghrib aku berangkat. Tempat makan yang kami tuju berada di Tembalang, daerah yang dulu pernah ku idamkan sebagai tempat tinggal karena lokasinya yang berada di dekat kampus dimana segala fasilitas yang ku butuhkan ada disana. Entah kenapa, malam ini aku membenci tempat ini. aku benci harus melewati jalan ini, aku benci kenapa aku masih disini ?

Setelah selesai makan dan membangun obrolan yang tidak hangat, aku pulang. Dijalan raya yang mulai sepi karena sudah lumayan malam, aku merasakan ada air mata yang menetes di pipi. bahkan saat aku mengetik tulisan ini pun mataku berkaca - kaca. Kenapa aku menangis ? entahlah. Aku memang sering melakukan banyak hal tanpa sebab. Sampai di depan kos, pintu dan gerbang sudah di kunci. Tadi memang tidak sempat membalas chat di WA grup karena handphone mati karena lowbat. 

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya aku terkunci diluar karena alasan yang sama, jadi otakku segera mencari solusi. Aku menuju tempat kos kakakku yang berjarak sekitar 10 Km dari kosku, menggedor kamarnya sambil memasang muka memelas agar diberi tempat tinggal sementara. 

Dengan segera aku membersihkan muka yang penuh dengan debu jalanan dengan cuka apel yang uapnya membuat mata lumayan pedih. Dengan mata yang berkaca - kaca, aku bilang bahwa cuka apel membuatku pedih. padahal itu hanya alasanku untuk menutupi air mataku yang sejak tadi tak mau berhenti keluar. 

Ku coba memejamkan mata, berharap besok aku meluapakan semua ini. atau setidaknya kalau tidak bisa lupa juga, besok sore aku bisa pulang (lagi) untuk 2 hari karena weekend. Pikiranku saat ini masih tentang rumah. Aku hanya ingin pulang.

Share:

Selasa, 08 Mei 2018

Sedikit Perjuangan Demi Melihat Keagungan Tuhan

 TRIP HORE X   

BY : @Backpacker_Semarang

logo backpacker semarang,
instagram.com/Backpacker_Semarang

 

Hampir setiap hari kegiatan utamaku adalah scrolling instagram. mulai dari cari - cari berita, info tempat wisata, berbalas komen dengan sesama pengguna, ataupun hanya sekedar menyumbang views untuk para manusia yang mengunggah instastory. 
Kebetulan hari itu, sekitar 2 minggu yang lalu kalau tidak salah. aku melihat instastory dari akun komunitas @backpacker_semarang yang menginfokan bahwa mereka akan segera mengadakan acara camping bersama. Aku - yang tak punya tujuan hidup pun langsung menggali info lebih dalam tentang acara yang akan datang itu. Singkat cerita, acaranya pun diumumkan dan dibukakan pendaftaran.

instagram.com/Backpacker_Semarang


Nama acaranya adalah Trip Hore, biasa dilaksanakan dua kali dalam setahun. ini baru pertama kalinya aku tahu, padahal ini sudah acara yang ke 10, yang artinya sudah sekitar 5 tahun komunitas ini berdiri dan mengadakan acara - acara semacam ini. pada Trip Hore ke 10 ini, acaranya adalah camping. Rasanya ini pertama kalinya aku berkemah setelah menolak lumaan banyak ajakan dari teman - teman pendaki karena jujur saja, aku gak kuat jalan menanjak.  tapi setelah mengetahu lokasi acara kali ini, lokasi membangun tenda tidak jauh dari tempat parkir. Akhirnya aku semangat mendaftar.

Instagram.com/Oktaffyani


Acara ini berlokasi di tempat wisata alam Ampel Gading Homeland, Desa Kenteng Kecamatan Bandungan. Dari arah pasar Bandungan belok kiri menuju arah candi gedong songo, setelah melewati kantor polisi Bandungan ada pertigaan yang ada pangkalan Ojeknya. Tinggal belok kanan, lalu ikuti saja panah arah menuju Ampel Gading Homeland, karena kalau ku jelaskan dari sini aku malah akan menyesatkan kalian. setelah belok dari pangkalan ojek tadi, aku harus  melewati jalanan aspal yang sudah rusak. tapi sebetunya tidak terlalu parah, masih biasa saja. Tapi setelah melewati desa, yang ada tinggal jalanan semen yang tengahnya bolong (if you know what I mean).


Source : Google 

Rasanya sudah lumayan jauh sejak rumah terakhir di perkampungan tadi, tapi aku belum sampai juga. semakin lama jalanan semakin rusak, ditambah memang keadaan jalan yang menanjak karena memang berlokasi di pegunungan. walaupun aku mengendarai motor, entah kenapa selalu merasa mudah letih saat melewati jalanan pegunungan (dan kemacetan). aku mulai menggerutu. Tak sengaja ku lirik indikator tangki bahan bakar Tinggal satu nyawa berkedip, Sial ! aku lupa isi bahan bakar. Sedikit panik karena sudah berada di tengah - tengah persawahan yang tentunya tidak ada penjual bensin eceran dan belum tahu kapan sampai tujuan.


Source  : Google

Aku berhenti sejenak di antara tanjakan. beberapa orang lokal yang sepertinya adalah pengurus wisata Ampel Gading Homeland;tujuanku (dilihat dari seragamnya) turut berheni dan menanyaiku dengan cemas "motornya kenapa?" mungkin dipikirannya mogok, rantai putus, atau kejadian yang tidak mengenakkan lainnya. tapi dengan santainya kujawab " tidak apa - apa pak, aku hanya lelah melewati tanjakan ini." Lalu mereka kupersilahkan mendahului. Setelah beberapa saat, aku melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya tiba di Parkiran motor. Alhamdulillah. Lalu mengucap Subhanallah setelah melihat pemandangan landscape di depan yang luar biasa Indah. 

Instagram.com/Oktaffyani


Di depan, Gunung Merapi - Merbabu terlihat gagah berwarna biru keabu - abuan, tengok ke bawah terlihat Rawa Pening dari kejauhan, dengan banyaknya genteng - genteng rumah dan pepohonan yang terlihat kecil. Rasa lelah yang tadi kurasa, lenyap seketika. Tiba - tiba aku punya kekuatan untuk melompat - lompat dan berlarian kembali. Selanjutnya, aku menuju tempat kami akan mendirikan tenda. Benar saja, lokasinya hanya sekitar 50 meter dari parkiran. 

Itu saja dulu Cerita Okta kali ini, nanti kalau otaknya jalan dilanjut part 2, menceritakan pengalaman berkemahnya. 
Terimakasih sudah membaca!
Share:

Rabu, 18 April 2018

Cafe Langit Biru - Tempat Nongkrong Buat Yang Hobi Traveling




Cafe saat ini seakan sudah menjadi tempat yang wajib dikunjungi. tidak hanya untuk sekedar ngopi atau makan, cafe juga tempat dilakukannya banyak kegiatan seperti gathering, berfoto untuk diunggah ke media sosial, bahkan juga digunakan sebagai tempat bekerja untuk orang - orang yang bisa bekerja secara digital. Selain menu, yang biasanya diutamakan pengunjung adalah desain cafe itu sendiri. tak heran saat ini banyak sekali cafe yang bermunculan dengan tema - tema tertentu untuk menarik pembeli. seperti di Cafe Langit Biru, misalnya. Dari namanya saja sudah cukup membuat penasaran.


Cafe Langit Biru benar - benar tahu bagaimana caranya membuat desain interior yang nyaman dan indah. di dindingnya dipajang beberapa foto traveling pemiliknya. ada juga koleksi pasir yang dipajang dalam botol kecil lengkap dengan keterangan dari mana pasir itu berasal.



Di sudut kasir  terdapat rak untuk memajang beberapa kamera yang tidak digunakan, kaset pita, bahkan aminities hotel yang sepertinya dikumpukan pemilik setiap kali menginap setiap kali traveling. Di sisi dinding lain diletakkan beberapa pajangan dinding dengn quotes yang cocok dengan konsep cafe ini.



Harga yang dibanderol untuk tiap menunya sangat terjangkau, untuk minuman mulai dari harga Rp. 3.000 - Rp. 15.000, sedangkan untuk cemilan dan makanan berat mulai dari Rp. 6.000 sampai Rp. 12.000 saja.

Cafe Langit Biru terletak di Jl. Senjoyo IV, Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang. Lokasinya tidak terletak di pinggir jalan raya, ataupun pusat kota. tapi karena keunikannya,  cafe ini tetap ramai dikudi datangi pengunjung.
Share:

Rabu, 11 April 2018

INI KERJA ATAU DIKERJAIN ?

#MenjadiOktaffyani 2

Tulisan ini adalah lanjutan dari aku : lulusan-smk-yang tidak tahu apa - apa jadi buat yang belum baca, silahkan dibaca dulu agar lebih mengerti alur cerita gak penting ini.




Sebelum acara perpisahan sekolah aku mulai semangat dan bahagia karena akan segera berstatus sebagai alumni, kembali menjadi pemurung. Aku enggan bertemu dengan teman - teman maupun guru yang sudah terlanjur aku ceritakan bahwa setelah lulus aku akan segera pindah ke Jakarta. Aku merasa tak ada harapan lagi untuk menjadi mahasiswa.

Source : google


Beberapa minggu setelah kelulusan, aku mendapat informasi dari teman di sekolah lain bahwa dari penyalur kerja di sekolahnya ada perusahaan di Semarang yang merekrut karyawan besar - besaran. Kubaca kualifikasinya, yang pasti tidak dibutuhkan syarat tinggi badan minimal. Yes! aku bisa mendaftar. Singkat cerita aku diterima bersama banyak anak lainnya dari sekolah yang sama. Kalau tidak salah waktu itu kami rombongan sekitar 50 Orang. Untuk kos sudah diurus oleh orang dari perusahaan yang merekrut kami (atau mungkin calo, entahlah). kami hanya perlu membayar dan bisa tinggal di tempat yang sudah disediakan. Waktu itu dalam 1 kamar kos dihuni 4 orang. Cukup, karena kami hanya anak baru, barang bawaan cuma baju ganti dan alat mandi.


Source : Google

Hampir bagi kami semua, ini adalah kali pertama bekerja. Memang sebelumnya pernah PKL (Magang) saat sekolah, tapi keadaan dunia kerja yang sebenarnya jauh berbeda. Kami yang baru saja lulus SMK diminta bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Akhirnya di minggu pertama, setengah dari rombongan kami kabur tanpa permisi, nekad pulang sendiri. Aku sendiri masih bertahan karena bagiku ke Semarang adalah pelarian. Walaupun berat, tapi tetap ku lakukan. 

Hasil gambar untuk buruh pabrik garmen
Source : Google

Sekitar minggu ke tiga bekerja, jam kerja semakin lama. Berangkat tetap pukul 7 pagi pulang pukul 9 malam dari hari senin sampai sabtu. Minggu yang hanya seperti butiran debu digunakan untuk istirahat dan mencuci baju. matahari seakan suka buru - kalau hari minggu. Baru istirahat sebentar, tiba - tiba sudah petang. Tidur, lalu pas bangun udah Senin lagi.

Source : Google


Minggu ke empat, minggu yang membahagiakan. Gajian Pertama! Akhirnya setelah rasanya seperti menunggu setahun, bisa juga merasakan uang hasil jerih payah sendiri. Tapi kebahagiaan itu cuma angin lalu saat melihat slip gaji yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Lembur yang dibayarkan jauh dari yang sudah dijanjikan. Kalau jam kerja normalnya 7 jam dimulai dari jam 7 pagi seharusnya selesai jam 3 Sore. Kalau lebih dari jam 3 Sore dianggap lembur. Betul, kan

Source : Google


Aku yang sudah kelewat membayangkan kaya  raya setelah gajian hanya bisa meratapi upah lembur yang hanya dihitung 2 - 3 jam setiap harinya, setengah dari hak yang sharusnya kami terima. Tapi apa daya, kami atau khususnya aku hanyalah anak yang baru beberapa hari lulus SMK, belum berani berbuat apa - apa. Akhirnya setelah menerima gaji itu aku dan hampir semua teman - temanku yang saat itu berangkat bersama juga kabur. Tidak baik memang pergi tanpa pamit, tapi prosedur resign sangat menyulitkan dan yang lebih berat bagiku adalah harus lebih lama menjadi "robot perusahaan".
Aku tak kuat lagi, Aku segera pulang.
Share:

Minggu, 08 April 2018

AKU : LULUSAN SMK YANG TIDAK TAHU APA – APA

#MenjadiOktaffyani



Setelah 3 tahun berjuang sendirian, akhirnya sebentar lagi aku akan pulang. Aku lahir di Kabupaten Magelang, dekat dengan warisan budaya yang terkenal di dunia, candi borobudhur. Sekolah dari SD – SMK juga didekat rumah. Selesai sekolah, sama seperti  teman – teman yang tak punya banyak pandangan setelah lulus sekolah. Sebetulnya ingin mendaftarkan diri ke Universitas, lalu ku beranikan diri bicara pada bapak bahwa aku ingin kuliah. Jawabannya sudah kuduga, aku ditolak! Sama seperti kakak – kakakku yang juga mendapatkan penolakan dengan alasan yang sama : BIAYA.

 
http://kabar24.bisnis.com/read/20180318/255/751153
Pada saat itu, aku juga sebetulnya sama sekali tidak paham bagaimana caranya mendaftarkan beasiswa. Sudah membaca persyaratannya tapi tak mengerti juga. Waktu itu aku pernah ditawari guru BK untuk mendaftar beasiswa bidikmisi. Katanya beliau yang akan mengurus semuanya, aku hanya perlu menyiapkan dokumen – dokumen yang dibutuhkan. Aku sangat merasa berterimakasih untuk itu. Aku sudah sangat dibantu. Tapi sayangnya, lama menunggu tak ada perkembangan. Aku dilupakan!

 
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Logo_Univ._Paramadina.jpg
Usaha kedua aku browsing di internet menemukan artikel bahwa Universitas Paramadina di Jakarta dapat memberikan beasiswa penuh selama 8 semester, tempat tinggal plus biaya hidup. Ini seperti solusi yang dikirimkan oleh Allah yang baik hati. Panduan cara mendaftarnya juga sangat jelas dan dapat dimengerti. Tinggal download form yang ada, di print, diisi, dan menyertakan beberapa lampiran seperti fotokopi rapor, SKCK, dan yang aku ingat ada surat rekomendasi dari kepala sekolah. Setelah semua dokumen dudah siap, dokumen harus dikirim hard copy. Aku yang belum pernah menggunakan jasa pengiriman, galau lagi. Katanya waktu itu kalau menggunakan ekspedisi semacan Tiki atau JNe mahal. Aku yang uang jajannya pas – pasan langsung kikuk, takutnya bayar sampai ratusan ribu padahal juga belum  tanya semahal apa. Akhirnya aku menggunakan jasa POS Indonesia, karna sesuai dengan pelajaran yang diajarkan guru disekolah, kalau kita kirim surat lewat kantor pos.

 

Tenggang waktu yang tersisa untuk aku submit dokumen adalah kurang dari 2 minggu sejak aku kirimkan dokumen lewat kanotr pos. waktu itu juga aku tidak tahu cara tracking pengiriman secara online,. Hanya berdoa dan harap – harap cemas  apakah dokumen yang ku titipkan berhasil sampai atau justru mandek di pengiriman. Setelah sekitar 3 mingggu, di web sudah terbit pengumuman daftar calom mahasswa yang dapat mengikuti tahap selanjutnya yaitu tes. Dari banyaknya peserta waktu itu, ku telusiri satu persatu. Namaku tidak ada. Aku putus asa.
Share:

Rabu, 19 April 2017

Generasi kurang piknik

Disclaimer!
Aku tau, gak semua anak muda mempunyai karakter atau sifat (yang mungkin negatif ) seperti yang bakal aku bahas di bawah. aku juga sadar betul, masih ada anak muda yang berjiwa muda, pro aktif, cerdas, dan berprestasi. aku buat ini juga karena terinspirasi dari blognya Gita savitri devi yang membahas tentang generasi tutorial. disana udah di jelasin panjang lebar dan sejelas - jelasnya (menurutku) tentang apa itu generasi tutorial. nah dari tulisan mbak gita itu, aku tiba - tiba kepikiran sama generasi muda sekarang yang kesannya mentalnya tidak terlalu kuat, seakan - akan selalu butuh liburan karena kegiatan yang sangat membuat stres pikiran entah karena sekolah, kuliah, atau pekerjaan.

Sejak sekitar satu tahun yang lalu, aku sering banget lihat meme
Hasil gambar untuk awal mula mucul meme kurang piknik

   Hasil gambar untuk meme kurang piknikHasil gambar untuk meme kurang piknik


Mungkin bagi sebagian orang, meme seperti itu dianggap lucu sehingga banyak yang share sampai booming di berbagai media sosial sehingga kebanyakan orang yang mengalami masalah sampai stres selalu dihubung - hubungkan dengan piknik. Tapi menurutku,piknik won't make sense if you just wanna show off, hanya karena di katain orang lain, atau hanya karena ikut - ikutan biar dianggap keren. Dari meme tersebut, aku berpikir tentang banyak hal.
Apa benar generasi sekarang kurang piknik ?
Kenapa generasi sekarang sering menyebut orang lain yang nyinyirdengan kurang piknik ?
Apa hubungan nyinyir dengan piknik ?
Apakah generasi sebelumnya juga mengalami masalah kurang piknik ?
dan banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di kepala. karena penasaran, lalu saya sedikit browsing tentang kurang piknik.banyak sekali website atau blog yang membuat atau reupload meme kurang piknik. banyak sumber menyebutkan bahwa kurang piknik menyebabkan usil terhadap kehidupan orang lain, kepo, nyinyir, dan semacamnya.
Really ?
Yang aku lihat sih, jaman sekarang disaat piknik sudah menjadi lifestyle anak muda, masih banyak juga yang nyinyir. piknik tidak mengubah tabiat mausia kebanyakan karena menurutku para generasi masakini sudah kehilangan (atau mungkin menghilangkan ) esensi piknik itu sendiri.
Yang aku tau, saat ini banyak sekali muda - mudi yang pergi piknik hanya karena latah sosmed. maksudnya lihat orang lain posting foto orang lain liburan ke pegunungan, ikut - ikutan biar dibilang sama gaulnya. lihat orang foto makanan di tempat fancy, ikut - ikutan. padahal sebenarnya kita gak butuh. hanya saja ingin terlihat sama dengan orang lain. Bisa jadi, mereka yan bilang kurang piknik ini juga bukan karena tekanan dari diri sendiri yang emang butuh piknik, melainkan hanya karena agar terlihat sama dan tidak dibilang ketinggalan jaman.

Lalu, bagaimana orang jaman dahulu ? apa mereka sering pikik? aku sedikit tanya - tanya sama ibu (mewakili generasi muda masa lalu) bahwa orang dulu gak latah piknik seperti generasi masa kini. mereka juga butuh liburan, tapi tidak separah sekarang. menurut ibuku, dulu generasi mereka liburan mungkin setahun sekali, atau dua kali saja dan tidak banyak rang yang menyebut dirinya atau orang lain kurang piknik. apa mereka tidak sekolah, kuliah,atau bekerja sehingga tidak punya tekanan yang sama seperti yang dirasakan generasi masa kini ? ternyata mereka juga bekerja. mereka juga kuliah / sekolah. jadi, apa yang membedakan ?
mungkin pengaruh lingkungan.jaman dulu, karena gadget belum secanggih sekarang (bahkan belum ada), orang - orang belum mengenal instagram, path, apalagi snapchat, jadi mungkin kegiatan 'pamer piknik' seperti yang dilakukan kebanyakan anak muda sekarang sehingga tidak ada orang yang latah piknik pula.

kembali ke kebutuhan piknik, sebenarnya memang menurutku setiap orang butuh piknik untuk menyegarkan pikiran dan membuka wawasan baru. namun, disesuaikan lagi dengan kebutuhan diri sendiri. apa benar aku butuh piknik ? atau sekedar hanya ingin pamer di sosial media? atau hanya sekedar 'agar sama seperti orang - orang kebanyakan' sehingga mengorbankan banyak hal.
Eh, piknik kan agar menejernihkan pikiran. apa ada yang dikorbankan ?
Tentu ada. kamu harus mengorbankan waktu, tenaga, dan uang yang mungkin seharusnya bisa kamu tabung buat masa depan hanya demi pamer foto 'aku pernah kesini lho, aku pernah kesitu lho, aku pernah begini lho, aku pernah begitu lho, dsb'. atau demi alasan 'agar suatu saat aku sudah tua, aku bisa duduk - duduk di teras, ngopi sambil mengenang masa lalu yang sering kesana - kemari'

Boleh sih, pemikiran - pemikiran seperti itu tentu sah - sah saja dan memang manis sekali dibayangkan. tapi, coba deh pikir lagi. kalau sekarang saja, di masa muda kerja malas - malasan, tidak punya tabungan karena uangyang seharusnya ditabung digunakan untuk memebeli tiket pesawat atau tiket penginapan ke luar kota bahkan luar negeri sehingga gaji bulanan selalu pas - pasan bakan kurang. Apa bisa di masa tua kita santai - santai dirumah ?


sumber gambar :
https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj2svOG_LHTAhXIuI8KHR42Bp4QjRwIBw&url=http%3A%2F%2Fmardhatillahbustamam.blogspot.com%2F2015%2F09%2Fselamatkan-anak-muda-yang-kurang-piknik.html&psig=AFQjCNGtLW5Xa-EHoBYCmbh8g28Y8dyhPQ&ust=1492741079558332

https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwivsdr6_LHTAhXGuo8KHdGZDQ4QjRwIBw&url=https%3A%2F%2Fwww.brilio.net%2Fngakak%2F11-meme-kurang-piknik-bikin-kamu-cekikan-sambil-meratapi-nasib-1611261.html&psig=AFQjCNEVn5sOUWIJscHuEm0fBL51xm7sJg&ust=1492741311574390

Share:

Jumat, 24 Maret 2017

Jakarta 12 Cerita

Kali ini, aku mau cerita tentang perjalanan ke Ibu kota Indonesia itu. ceritanya, tanggal 12 Maret 2017 lalu aku pergi ke Jakarta karena iseng. well, sebenarnya bukan iseng sih, kebetulan memang dari dulu pengen ke Jakarta tapi belum daa teman yang mau diajak. awal maret itu, kebetulan banget aku sama @Iiqhue ( as always ) dapat invitation dari Emporium Jewels di Grand Indonesia. Jakardah Yeay!

Kenapa judulnya Jakarta 12 Cerita ?  karena kebetulan kita ke jakarta tanggal 12 Maret selama kurang - lebih 12 jam. mengujungi 12 tempat ( dipaksakan sekali ) dengan modal Rp. 12.000,00. Ah, kalau itu bohong! nolnya ditambahin satu, jadi Rp. 120.000,00. aku emang bikin challenge sama diri sendiri sih, biar pas aja sama angka 12. tapi, Rp. 120.000,00 ini tidak termasuk tiket kereta loh ya, ini hanya pengeluaran mulai dari stasiun tawang, Semarang. so, how was the story ? let's begin!

Jadwal kedatangan kereta yang akan kita tumpangi yaitu pukul 19.28 WIB tanggal 11 Maret. Kita sampai di Stasiun Tawang sekitar satu jam sebelumnya. untuk mengantisipasi kebosanan dan kelaparan di kereta nanti, kita membeli air mineral dan snacks. karena aku malas membawa banyak bawaan ( dan irit juga sih ) kita membeli 3 botol air minum ( 600 ml ) seharga Rp. 4500,00 dan total harga snack Rp.33.500,00 lumayan lah kalau buat cemilan, karena kemungkinan besar kita tidur di kereta karena ini perjalanan malam hari.

Sepanjang perjalanan, kita bercerita, bercanda, tertawa.. halah Aku kira hanya akan menemui gelap, ternyata malam begitu mewah dengan segala bintangnya yang anggun dan gemerlap cahaya lampu yang kulihat dari kaca jendela. Stop! gak perlu puitis
setelah menempuh lebih dari tujuh jam perjalanan, akhirnya kereta terdengar pengumuman dari pramugari "mohon perhatian, sesaat lagi kereta akan tiba di peberhentian akhir stasiun pasar senen..." kita sampai di Jakarta! 

saat itu masih pukul 02.14 WIB jadi kita memutuskan untuk tidak langsung keluar dari stasiun karena alasan keamanan. Ya.. of course lah, dua cewek mau keluyuran di tempat antah berantah itu malam - malam begini ? No! akhirnya kita duduk dulu di tempat tunggu stasiunnya. bukan ruang tunggu sih, itu cuma ada beberapa kursi tunggu dipinggir rel kereta. sayangya, disitu banyak banget nyamuknya.

Dibelakang kursi itu tembok luar stasiun yang kebetulan ada ventilasinya. dari ventilasi tersebut, aku bisa lihat ke area luar stasiun. sepi! hanya ada beberapa orang yang tidur di trotoar jalan, hanya dengan alas tikar dan selimut sarung. sangat sepi, karena ini masih jam dua pagi.

Rencananya, setelah adzan subuh kita akan keluar stasiun dan jalan kaki ke Monas. tapi ternyata, sekitar jam 5 it masih gelap, dan kita kepikiran buat naik commuter line. Setelah ke counter commuter line, ternyata KRL gak berenti di stasiun Gambir, itu yang paling dekat kalau mau ke monas. Akhirnya, sekalian jalan - jalan, kita ambil rute ke jakarta Kota transit di Kampung bandan. Sampai jakarta kota, kita pindah kereta arah Depok, tapi turun di Juanda karena kalau lihat di peta (senjata kita hanya peta) stasiun yang paling dekat adalah Juanda.

Biaya KRL adalah Rp.3.000,00 per orang, tapi wajib deposit Rp. 10.000,00. Nah,uang depositnya ini bisa kita ambil di stasiun akhir kita. jadi intinya, kita cuma butuh Rp. 6000,00 buat muter - muter. dari stasiun Juanda, kita jalan kaki ke Masjid Istiqlal. alhamdulillah, aku bisa kesini. nah, karena belum mandi, jadi kita mampir ke kamar mandi umum di Lapangan Banteng. cuma bayar Rp. 5000,00 saja.

Setelah itu, kita jalan ke Monas. Bahagia kali liat Monas! kita sampai Monuen Nasional sekitar pukul 08.00 pas buka.bisa lah buat foto - foto koleksi instagram di platarannya. saat asik foto - foto, kita dengar ada pengumuman yang entah apa. setelah diulang lebih dari 10 kali, kita baru tau itu pengumuan antrean untuk masuk. Jadi kita langsung ikut baris rapi di antrean itu. Aku kira hanya sekitar 10 meter itu antrean untuk sampai di loketnya, ternyata itu baru sampai ke pintu masuk ruang bawah tanahnya. antrean padat sekali. untuk berhasil masuk ke ruang awah tanahnya, kita antre sekitar 15 menit. 

Perjuangan belum dimulai, karena ternyata kita masih harus mengantri di loket. Menyedihkannya, antrean ini sekitar 15 menit lagi. Huft! Setelah mendapatkan tiketnya, kita bisa masuk ke monumennya. unuk harga tiketnya Rp. 15.000 per orang dan harus deposit Rp.10.000,00, adi total yang harus dikeluarkan Rp. 40.000,00

aku kira posisi saat keluar dari ruang bawah tanah itu sudah di cawannya. ternyata belum! dan disinilah perjuangan sebenarnya. matahari sangat terik, dan antrean yang panjaaaaang kayak episodenya uttaran kita antri dari sekitar setengah sembilan sampai jam 10 masih diluar dengan keajuan posisi antrean sekitar 4 meter. What ?!? akhirnya, kita menyerah, keluar dari antrean, pergi dari kehidupan ini. *enggaklah.. pergi dari monas aja. lalu karena haus banget, kita beli minuman botol dari pedagang asongan gitu, 2 botol air mineral harganya Rp. 10.000,00

Dari Monas, kita order Grab untuk menuju ke Grand Indonesia. Iya, tempat terbunhnya Mirna itu.ongkos Grabnya murah cuma Rp. 12.000,00 saja. karena lapar, jadi kita makan dulu, makanan yang paketan Rp. 25.000,00 aja berdua, jadi total Rp. 50.000,00. Setelah kenyang, kita ke toko tujuan kita, Emporium Jewel. awalnya kita bingung dan malu (berasa gembel takut diusir). di dalam terlihat beberapa karyawan yang menata barang. karena posisi pintu tertutup, kita mendekatkah ke pintunya. tak kira pintu otomatis kebuka, ternyata saat jarak kita sudah dekat masih tertutup juga. inisiatif buat dorong, gak bisa! nyoba di geser, gagal. akhirnya karyaan uang di dalam toko itu memberi kode bahwa toko masih tutup! 😳 malunya itu loh!

akhirnya kita muter - muter gak jelas dulu sambil bahas kebohohan yang baru saja terjadi. setelah sekitar setengah satu, dengan malu banget karena kejadian tadi, kita masuk (kali ini alhamdulillah sudah buka). dan setelah menyeesaikan urusan, akhirnya kita dapat Clutch keren dari @emporiumjewel thank you!
setelah itu kita pesan Gojek buat ke Pasar senen lagi. ongkosnya Rp. 22.000,00

Kita mempir ke pasar senen yang bekas kebakaran itu, lihat - lihat tas, sepatu, baju, dll tapi gak beli. lalu kita jalan kaki ke stasiun pasar senen sekitar 5 menit dari pasarnya. Sebelum naik kereta, kita beli minum sama snack dulu, totalnya Rp. 48.000,00 saja. lalu kita ke print tiket mandiri. setelah menapat tiket, sekitar pukul 15.15 kita pulang ke Semarang. 

Lelah!
Tapi, pengalaman dan keseruan tak sebanding dengan lelah dan panasnya Jakarta. 
Jadi, besok kita kemana lagi ?

Buat teman - teman yang bingung, ini rincian biayanya:
Air minum          : 13.500
Snack                : 33.500
KRL                  : 6.000
kamar mandi      : 5.000
Monas               : 40.000
Minum               : 10.000
grab                   : 12.000
Makan               : 50.000
Gojek                : 22.000
Snack & minum : 48.000 
Total                  240.000

Lho.. katanya Rp. 120.000 ? iya.. soalnya itungan diatas kan pengelaran 2 orang, jadi di bagi da hasilnya Rp. 120.000
and we're done!


 




Share: