Selasa, 11 September 2018

I LOVE YOU, MY SELF



Pagi ini bangun tidur seperti biasa buka Hp dan baca - baca sosial media. Mulai dari Instagram sampai whatsapp. tiba - tiba ada perasaan nggak ikhlas karena kemarin aku menghapus dan mengarsipkan beberapa foto di instagram karena alasan mengikuti orang lain. Kaget sendiri saat sadar bahwa aku bisa diatur. 

Tiba - tiba teringat kalimat @iiqhue beberapa bulan lalu pas aku lagi patah hati sama orang sampai aku menjauh dari lingkaran sosial termasuk uninstall instagram yang hanya betah kurang dari seminggu. Dia bilang, labil sekali. tingkahku saat itu juga tak terkendali. Untuk mengatasi itu, aku mulai lagi dengan menyibukkan diri, bertemu banyak orang baru, mendengarkan cerita baru, membuat kenangan baru.

Pikiranku semakin penuh, kegiatan juga bertambah padat. Aku pikir dengan begitu akan membuat tidur malamku menjadi nyenyak karena fisik dan pikiranku lelah, ternyata tidak. Ini jauh lebih melelahkan. Istirahat semakin tidak teratur, makan tidak teratur, dan semakin tidak berdamai dengan diri sendiri. 

Kacau !

Sebentar, kalimat itu, "berdamai dengan diri sendiri" apakah aku sudah melakukannya ? Rasanya ini sumber masalahnya. dua tahun lalu dan sebelum - sebelumnya sepertinya aku adalah manusia paling bahagia. Itu masa - masa senang mencoba hal baru. Masa - masa nggak peduli sama sekali sama pendapat orang lain, mencintai diri sendiri, dan bahagia. 

Entah kenapa, semakin kesini rasa cinta sama diri sendiri semakin luntur, hilang. Yang ada dipikiran hanya pemikiran orang lain, takut salah dimata orang lain, takut menjadi beda. Setiap mau melakukan sesuatu mikirin dulu gimana kira - kira pendapat orang lain nanti, atau kalau sudah kelewat ceroboh sendiri jadi takut dillihat orang lain. Pada akhirnya takut buat mencoba hal - hal baru lagi dan mencari jalur aman. 

Mengingat kembali, dulu aku cinta banget sama aplikasi instagram. Buktinya, bersua dengan banyak followers dan mengingat dulu bareng - bareng gedein akun sama @iiqhue. Dari followers yang dibawah seratus sampai waktu itu sekitar 15 ribu. Saat itu, aku bahagia. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Karena aku tidak bisa mengendalikan pendapat netizen, jadinya malah aku yang kalah. Awalnya secara nggak sadar jadi mengikuti arus dan keinginan netizen. 

Hari ini, setelah ku pikir kembali itulah alasannya aku sering merasa capek sendiri. Aku lelah bertopeng, menuruti pendapat netijen. Sekarang, aku mau melepaskan jeratan tali - tali yang mengganggu pikiran itu, lalu kembali berdamai dengan diriku sendiri. memeluk hangat jiwa yang dingin ini, memberikan senyum yang rasanya sudah lama tidak mendapatkannya. 

Dear my self,
I love you.
Hari ini beban sudah dilepaskan, diikhlaskan. Jangan lagi menyakiti diri sendiri dengan pendapat orang lain. Percayalah bahwa kamu layak untuk bahagia.

Share:

Selasa, 04 September 2018

MAKHLUK SOSIAL

Manusia adalah makhluk yang selalu menarik, baik dari penampilan maupun kelakuannya. Dulu, pemikiranku sungguh sempit (sekarang masih, tapi mulai membaik). Aku menjadi manusia yang tak mau menjalankan toleransi. Yang benar begini, bukan begitu, Aturannya begini, kamu jagan begitu. Tapi kalau caraku yang beda, ya ini caraku. Apa urusannya denganmu ? dan seterusnya. Egois!

Karena jarang sependapat dengan orang lain, aku banyak menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Akhirnya aku nyaman melakukan apapun sendiri, berteman dengan sepi. Sampai suatu malam, entah bagaimana ceritanya aku merasa tak nyaman dengan sepi. Lalu sejak saat itu mulai mencari - cari lagi, mengingat kembali apa yang membuatku dulu betah ? kenapa sekarang tiba - tiba berontak ?
Teringat kutipan yang disampaikan dosen saat kuliah, dari bukunya Aristoteles kalau tak salah. Pada dasarnya manusia adalah zoon politicon, selalu ingin bergaul dengan orang lain, bergabung dengan masyarakat. Akhirnya beberapa hari kemudian aku mulai mengikuti kegiatan - kegiatan yang tujuannya adalah aku bisa bertemu dengan banyak orang.

Awalnya takut, tapi memaksakan diri. Aku mencoba berkenalan dengan orang baru, mengobrol dengan orang yang tak dikenal, dan sebagainya.  Lalu keberanianku mulai tumbuh. Oiya, sebelumnya aku nggak pernah aktif ikut organisasi saat sekolah, kuper banget. Suatu hari aku menemukan acara Koper Ransel di Instagram yang akan diadakan di semarang yang memungkinkanku untuk datang. Sepertinya, itu pertama kalinya aku ikut kegiatan komunitas - komunias gitu. 

Di acara itu, seru juga ternyata. aku berkenalan dengan beberapa kawan. Aku datang kesana sendiri, memang kebetulan tidak mau mengajak orang kecuali kakakku yang saat itu sibuk bekerja. Aku berkenalan dengan beberapa kawan yang sekarang hanya kuingat beberapa. Di acara itu juga ada makan siang bersama. Aku bingung mau makan dengan siapa karena belum ada yang akrab. Ada seseorang yang duduk di meja yang muat berempat, dan dia sendiri. pikirku dia Nerd juga sepertiku, kuberanikan diri untuk ikut duduk di mejanya. Ternyata beberapa menit kemudian pacarnya datang. Dari toilet katanya. Lalu datang lagi seseorang, yang terlihat gayanya paling beda, susah diungkapkan. Kita sebut saja dia mas Lana. Dia ikut duduk di sampingku, lalu kami makan sambil mengobrol. Karena ini acara traveling, obrolan makan siang pun berisi tentang cerita saat mereka traveling. aku hanya mendengarkan. Pertama kali aku betul - betul tertarik mendengarkan ceritanya adalah ketika dia bilang pernah dapat tiket PP ke bangkok cuma 200 perak. Aku langsung terpana. Pertanyaan paling basic lainnya yang muncul dai obrolan ini adalah "ikut komunitas apa aja?" nah aku dengan muka bloon jawab nggak ada sama sekali. sebelunya nggak pernah tertarik. lalu jawabannya adalah "Jangan ikut - ikutan komunitas, Nagih." Katanya. 

Saat itu, diantara kami semua tidak ada yang tukar kontak. hanya saja si mas Lana memberikanku sebuah sticker, katanya "ikut acara komunitas ini juga ya kalau sempat. jangan takut, jangan malu. bilang aja kenal aku." Bukan karena dianya, tapi karena aku memang mau memberanikan diri untuk mencari teman, akhirnya aku ikut acara yang biasanya mereka lakukan rutin - Kopdar Backpacker Semarang. 

Kebetulan aku ikut kopdar itu bukan karena kopdarnya sih, lebih tepatnya karena hari besoknya aku mau ikut camcer untuk pertama kali. Nah acara itu dibuat oleh backpacker semarang. Aku sih mikirnya sebelum camping bareng, bolehkah kenalan dulu sama manusia - manusia yang besoknya mau acara bareng. Nah, betul saja. dari acara itu aku bisa ketemu dengan banyak teman baru.

Karena komunitas pertama yang paling menarik hati adalah koper ransel by travelingyuk, aku nggak mau jadi kacang lupa kulit dong. Eh, lebih tepatnya nggak mau melewatkan kesempatan untuk mencari kawan dari kota lain. Waktu itu kan acara pertama yang ku ikuti di semarang, Nah Selanjutnya Travelingyuk ini mengadakan acara yang sama di kota - kota lainnya, termasuk Jogja. Jarakku dari rumah ke Jogja yang menurutku tidak terlalu jauh akhirnya ku tempuh. Aku bertemu lagi dengan crew yang dulu pernah bertemu di Semarang. Senangnya. Disana tentunya menambah teman baru.

Crew yang ramah, teman - teman baru yang ramah membuatku merasa diterima di masyarakat. Selanjutnya, berasa semakin akrab dengan Kak Lidya, Kak Raisa, dan Kak Kiky waktu itu. Sampai kadang aku sok kenal dan semakin kurang ajar saat berkomunikasi dengan mereka via media sosial. 
Acara - Acara travelingyuk Selanjutnya yang sekiranya bisa ku datangi dengan motor aku ikuti. Cerita One day trip ke kebun teh medini, misalnya. Tega - teganya aku menyuruh gadis manis yang baru datang dari Malang mengendarai motor butut dari Semarang sampai ke kebun teh medini karena sampai saat ini aku masih belum berani lagi mengendarai motor melewati jalanan berbatu dan berliku liku. 

Wah, cerita yang kutulis jadi mengarah pada Travelingyuk ya, sudah ah. takut salah ngomong. Intinya, dari pertama kali ikut kegiatan waktu itu, aku semakin banyak mengikuti kegiatan sosial lainnya. Seperti mengikuti kelas gapura digital karena info dari teman di travelingyuk, dan lain - lain. Minggu lalu juga, aku diajak Mba Ratih, teman travelingyuk dari Solo untuk ikut Sightseeing bersama kawan - kawan yang belum dikenal di Jogja, dan masih banyak lagi.

Inti dari cerita yang nggak jelas ini adalah aku ingin mengajak teman - teman untuk keluar zona nyaman yang belum tentu itu adalah zona aman. Sepertiku dulu, sepertinya hidup sendiri adalah hal paling menyenangkan, tapi kenyataannya saat keluar dari tempurung, banyak sekali hal menyenangkan yang bisa di pelajari, bisa di nikmati. Manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk hidup.

Terimakasih sudah membaca
ini ada beberapa foto yang jadi icon group di WA, biar kelihatan ada gambarnya aja di thumbnail. Mungkin nanti kalau ingat aku upload foto - foto lain yang ada di gelery








Share:

Kamis, 30 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 5 - PULANG

Minggu, 19 Agustus 2018

Sama seperti pagi - pagi sebelumnya di Bali, hujan. tapi hari ini hanya gerimis. setelah mandi dan membereskan barang - barang, aku turun ke lobby untuk sarapan. aku memilih duduk di teras sambil memandangi gerimis. Kuseruput teh yang baru saja kuseduh, sambil melamun. tiba - tiba seorang pengendara yang melintas teriak, motornya ambruk lalu lari sambil teriak yang kurang jelas teriakannya apa. lalu beberapa warga yang ada di sekitar berbondong - bondong keluar dan ikut mengejar. Ternyata, pengendara yang motornya ambruk itu adalah korban copet. dia berusaha mengejar copet yang membawa lari dompet dan smartphone yang dimasukkan di pouch kecil yang ditentengnya, tapi karena gemetaran jadi motornya jatuh. Aku ikut deg-degan, bak menonton pertandingan laga. Salah satu orang membantu meminggirkan motornya yang menghalangi jalan. beberapa saat kemudian, korban copet tadi kembali dengan hati yang sedih. dompet dan HP nya tidak kembali.

 

Setelah semua bubar, aku lanjut menghabiskan sarapan yang ku pesan lalu menuju warung yang berada hanya sekitar 200 meter dari homestay untuk membeli sandal karena sepatuku basah kuyup akibat kemarin seharian dipakai berjalan di tengah hujan, serta berjalan di pasir pantai. Harga sendal jepit 15.000. Karena saat 17 Agustus aku mencoba mencari gojek atau grab bike susah dan pas dapat tiba tiba drivernya cancel, jadi aku memikirkan alternatif transportasi ke terminal hari ini. Bus yang akan aku tumpangi berangkat dari Terminal Mengwi pukul 13.00. Baru jam 9 aku sudah mencoba membuka aplikasi Grab. Tapi, sepertinya lancar. Ongkos untuk ke terminal mengwi naik - turun jika membayar menggunakan cash. Ku lihat ada promo bayar pakai Ovo hanya 1 rupiah. sekilas baca cara pengisian Ovo bisa melalui alfamart, Driver, atau pulsa. Lagsung ku isi pulsa 25k dengan membayar 27.000 ke mbak - mbak indomaret, lalu mau aku isikan ke saldo Ovo. ternyata aku salah baca. Pulsa yang ku beli sia - sia karena seharusnya jika aku sudah punya saldo Ovo bisa digunakan untuk mengisi pulsa, tapi tidak berlaku sebaliknya. Yasudahlah.



Aku berhasil order gojek dari Kuta - Mengwi seharga 47.000 padahal masih jam 10 pagi, tapi daripada di cancel dan nanti dapatnya susah, jadi yasudah. berangkat ke terminal kepagian. Sampai di terminal bimgung sendiri. Mau apa selama nunggu 3 jam ? Tau sendiri suasana terminal tidak menyenangkan. JAdi jalan ke taman Rama - Shinta, foto - foto sebentar, lalu kameranya mati. huh. Tadi malam lupa nggak di charge. Mencari warung makan, sekitar 1.5 km dari situ ada warung ayam betutu. Tapi sudah terlanjur malas jalan. akhirnya kembali jalan ke terminal lagi.

Sempat ngobrol sebentar dengan ibu - ibu yang menunggu dijemput anaknya. Lalu karena merasa sudah siang, ibu itu menyarankanku ke kantin untuk makan. Padahal aku sendiri lupa kalau belum makan siang. aku menuju kantin yang di arahkan ibu itu. Hanya warung sederhana, aku memesan nasi rames lalu mengambil air mineral di meja, lalu duduk. Ibu penjualnya orang jawa, jelas terdengar dari logat dan bahasanya. Kebanyakan yang diterminal itu kurasa juga jawa. Tiba tiba, orang - orang di terminal itu ribut sambil lari, termasuk pemilik warung itu yang lari sambil membawa nasu pesananku. "Buk, nasiku!" kataku. Kupikir Ibu itu lupa tadi yang pesan siapa. Baru sadar, ternyata suara lainnya berteriak "gempa!, gempa!" Aku baru sadar mereka lari karena gempa. Akupun ikut lari. Masih ada seorang lagi yang masih asik menghabiskan kerupuk sambil membalas pesan chat di smartphone yang ia bawa. Aku memanggilnya "mas, Nggak ikutan minggir? ini gempa." Baru orang itu tersadar dan ikutan lari dari bangunan.


Setelah kehebohan yang terjadi, alhamdulillah tidak ada yang parah. aku bisa makan siang dengan tenang. biaya makan siang cukup murah, hanya 18.000. Setelah itu, aku kembali menunggu bus yang berangkatnya molor 1 jam dari Jadwal.

Bus yang aku tumpangi sudah memberikan 2X makan dan minum sampai aku sampai di Semarang, jadi nggak perlu beli makan lagi. Nggak banyak cerita dari perjalanan bus ini. Aku lebih banyak tidur karena takut mabuk darat. Tapi untungnya, paginya sekitar jam 8 sampai disemarang aku tidak mabuk darat. Sepertinya, ini pertama kali. Aku hebat. Aku turun di daerah Pucang Gading, Lalu naik Trans semarang warna biru seharga 3.500. Harusnya aku pindah bus di simpang lima ke balaikota, agar bisa transfer ke trans Jateng. Tapi karena lelah, aku ketiduran di bus. Akhirnya aku transfer ke halte Tawang, Baru naik Trans Jateng yang harganya juga 3.500 sampai di Harjosari, tempat tiggalku.

Nah, itu dia cerita #nggembelkebali kali ini. total pengeluaranku bisa kalian hitung sendiri, kurang dari satu juta rupiah.
Yang terpenting, aku sudah melunasi #janjibali yang kubuat sejak saat lagi pusing - pusingnya mikir kuliah. Akhirnya sekarang sudah Lunas.
Selanjutnya backpacking kemana lagi ya ?
Share:

Rabu, 29 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 4 - NGGEMBEL DI BALI

Tanggal 18 Agustus 2018



Alarm di hp bunyi pukul 05.30 pagi, aku segera tidur lagi. haha. enggak lah, aku bangun, sholat, mandi. Sayangnya, diluar gerimis. Wah, bakalan sedih banget sih kalau hujan lagi. Karena di luar masih gelap, aku tidur - tiduran lagi sampai jam 8, lalu aku sarapan. itupun masih hujan. Kebetulan ada teman ngobrol waktu sarapan. Mas - mas anak motor gitu. Ternyata dia dari Solo naik motor sendiri ke Bali, karena ada acara gathering komunitas motor. Selesai gathering, jalan - jalan. Tadinya kalau mas - mas yang tak diketahui namanya ini belum mau check out, mau tak ajak jalan bareng (dibaca : nebeng) tapi sayangnya dia yang udah sekitar seminggu disini tetap mau pulang ke Solo hari ini juga.

Hujan belum reda, padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Ada seorang mas - mas lagi yang check in dengan mengenakan kostum ala petualang dengan carrier yang di gendong di punggung lebih tinggi dari kepalanya dan daypack yang digendong di depan badannya. sambil nunggu proses check in, dia duduk di dekatku (karena memang ruangan itu tidak terlalu besar). Sempat ngobrol Juga sebentar. Diketahui, asalnya dari medan. sudah sekitar 2 bulan keliling Jawa, dan akhirnya hari ini sampai di Bali. Rencananya mau sekitar seminggu di Bali, lalu pulang ke Medan.

Manusia selanjutnya, koko - koko dari Shanghai.  Katanya baru putus cinta, Jadi solo traveling ke Indonesia. Rencananya mau ke lombok setelah dari Bali, tapi karena ada bencana Gempa, jadi dia belum tau mau kemana. Wah, cerita - cerita traveler yang begini yang aku suka. Jadi pengen ganti pekerjaan yang bisa se fleksibel mereka.



Nggak terasa, sudah jam 10 lebih. Hujan reda, walaupun masih sedikit gerimis. aku memutuskan untuk naik gojek ke bandara untuk naik bus Sarbagita karena halte terdekat dari posisiku adalah di Bandara. Ongkos gojek 10.000, aku diturunkan di sekitar parkiran motor. ku tanya halte sarbagita ke mana, dia nggak tau. Jadi dari parkiran motor aku jalan kaki masuk area bandara, lalu menemukan spot foto sejuta umat. Ya tentu, foto dulu. Saat itu bekas hujan, jadi lumayan sepi. Ada Bapak - bapak yang sedang membereskan trolley melihat kearahku. Ku kira mau menegur karena dilarang foto, ternyata malah memberi rekomendasi spot foto lainnya. Makasih pak!



Selanjutnya menuju tempat tunggu bus. Ada mas - mas yang juga nunggu bus tanya "mbak, biasa naik sarbagita ? ini busnya kapan datang ya ? saya sudah 1 jam lebih kok nggak ada yang datang." Mati! kataku dalam hati. Akhirnya sambil ngobrol sama dia. Sebetulnya dia asli Bali, tapi lama tinggal di Jakarta. kebetulan hari ini pulang kampung mau naik bus sampai sekitar Ubud, rumahnya. Kata dia, memang untuk tujuan wisata bali bintang lima. tapi urusan transportasi bobrok semua. kebanyakan pejabat pemerintah memiliki bisnis pariwisata, jadi katanya dibuat rekayasa angkutan umum yang murah seperti sarbagita ini di minimalisir. Ya, entahlah.



Sudah menunggu satu jam belum ada juga bus yang datang. Akhirnya aku memutuskan jalan kaki sekitar 2.3 km menuju hutan wisata mangrove di ujung bali mandara toll road. sambil jalan, ketawa sendiri -Akhirnya nggembel yang aku banget. Sampai di hutan mangrove juga merasakan bahagia yang sama. Memang, aku lebih bahagia menemukan tempat yang nggak banyak dikunjungi buat wisata seperti ini dibandingkan dengan cerita hari kemarin yang jalan sendirian ditengah keramaian legian. Ditengah jalan, aku membeli jus mangga seharga 10.000, dan lanjut jalan lagi.



Bingung mau kemana, akhirnya membuka google ada pantai jerman yang lokasinya berada di sekitar belakang bandara Ngurah Rai. Jadi aku jalan lagi 2.3 km ke bandara. Kulihat di peta bisa lewat belakang parkiran bus bandara, tapi ternyata ada tembok yang menghalangi. Aku tanya ibu - ibu tukang sapu yang sedang bekerja, katanya harus lewat jalan perkampungan. "itu lurus kesana dek, nanti ada pertigaan ke utara, perempatan ke timur, nanti ada patung ke utara, bla bla bla" aku cuma bisa melongo. Jujur saja, aku bodoh soal arah. aku hanya menganggung - angguk sambil lihat arah tangan ibu itu saat menjelaskan. Ah, untung tangannya sambil nunjukin ke arah kanan dan kiri.



Ternyata, benar arahan tangan dari ibu tadi. aku sampai di Pantai Jerman. Menyenangkan sekali. Pantainya jauh lebih sepi dibandingkan Kuta. Aku foto - foto sambil isirahat sebentar, lalu lanjut jalan menyusuri pantai ke arah kanan - arah ke Kuta. Sambil jalan, aku beli minuman seharga 7.500. Sesekali aku istirahat, duduk di pinggir pantai. Aku juga mampir ke Discovery mall untuk ngadem. Disini jauh lebih sepi dibandingkan beachwalk. padahal menurutku secara lokasi sama, mall yang menuju pantai.



Aku berjalan menyusuri Kuta art market, tapi tidak masuk karena sudah sangat lelah, dan mampir ke toko yang menjual barang serba 10.000. Karena memang nggak niat beli oleh oleh, jadi aku cuma beli sticker bentuk peta bali dan kalung untuk diriku sendiri. Pelit ya ? selanjutnya, aku lanjut jalan sampai ke homestay. Setelah sampai, aku langsung mandi dan meluruskan kaki. Pegal sekali setelah berjalan sekitar 10 km seharian. Malamnya, aku hanya keluar sebentar, mengantar teman yang menginap di homestay yang sama untuk mencari Atm. kita jalan ke Legian. Setelah menemukan Atm, kita makan -ditraktir, jadi aku nggak bayar dan kembali lagi ke homestay. Aku benar - benar ingin segera tidur.
Share:

Selasa, 28 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 3 - AKHIRNYA BALI

Tanggal 17 Agustus - Pagi




Keluar dari pelabuhan, sudah ada calo bus. Kebetulan di belakangku ada sepasang kekasih yang juga turun kadi kapal dan mau menuju Denpasar. Mereka yang menawar harga bus 40.000 untuk sampai ke terminal ubung. Aku tinggal ikut - ikutan saja. Ku pikir, bus yang akan mengantarkan perjalanan selama kurang - lebih 4 jam ini adalah bus besar yang seukuran AKAP (maaf ya, aku kurang tau ukuran bus) ternyata bus kecil satu pintu.



Selama perjalanan sudah mulai gerimis dan hujan. Kutanya pada kondektur berapa lama lagi kita sampai. Katanya kalau lancar sekitar 2 Jam lagi. Tapi beberapa menit kemudian, bus berhenti. Si kondektur meminta semua penumpang turun dan pindah ke bus lain karena busnya rusak dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah pindah bus, aku lupa. sepertinya aku lebih banyak tidur hingga sampai ke terminal ubung.



Keluar dari terminal ubung gerimis. Aku keluar dari terminal lalu menyebrang jalan raya untuk sampai ke Alfamart. Aku hanya membeli permen mint seharga 9.000 karena perutku terasa hampir mual. Di depan alfamart ternyata juga ada beberapa supir angkot dan tukang ojek yang "memaksa". Ku tanya berapa ongkosnya, masih belum ada yang memberikan angka. berbelit - belit. Lalu aku ditarik masuk ke angkot dan ditawari diantar sampai tujuanku. Setelah aku duduk baru disebutkan harganya 180.000. Akupun menolak keluar, tapi masih terus di paksa dengan menurunkan harga. Akhirnya supir angkot itu menyerah, dan bilang bisa naik angkotnya sampai Tegal dengan membayar 20.000. Karena memang sudah ilfeel (dan takut) dengan tawaran - tawaran sebelumnya, akhirnya aku setuju. Sampai di Tegal aku lihat ada Alfamidi. Aku mampir membeli air mineral seharga 2.500 karena air minumku sudah habis. Selanjutnya aku naik angkot lagi menuju Kuta dengan biaya 10.000. Aku turun dekat Pos polisi Jl. Raya kuta, lalu jalan sekitar 10 menit hingga sampai di tempatku menginap, Gong Corner Homestay. Di jalan, ada penjual piscok - jajanan terfavorit. jadi mampir beli dulu. Harganya seribuan, aku beli 5.



Aku langsung check in, mandi, dan istirahat sebentar. Sekitar jam 3 sore, suara hujan sudah tak terdengar lagi. aku memutuskan keluar untuk jalan - jalan. Sebelum sampai di monumen bom bali, hujan mendadak deras lagi. aku menepi di depan counter hp. agak lama menunggu, hujan tidak juga reda. Tanggung kalau mau balik ke penginapan lagi. Iseng - iseng tanya penjaga counter, ternyata disitu juga jual payung. Ajaib! Dengan ekspresi sedikit bingung, tercengang, dan bahagia, akhirnya aku membeli payung seharga 25.000 di counter hp.



Jalan kaki sambil ngomong dalam hati "oh, ini to legian. ini to monumen bom bali, poppies lane, pantai kuta, cafe dulang, beachwalk, dan tempat - tempat lain di sekitarnya yang dulu pernah ku dengar dari cerita." Norak ya ? salah satu hal yang ku perhatikan adalah kotanya padat banget. sampai - sampai gang - gang kecil saja ramai dengan kendaraan bermotor. karena merasa kurang nyaman saat jalan kaki, jadi kepikiran. kenapa nggak dibuat jalanan ini khusus pejalan kaki saja ? toh kenyataannya banyak sekali yang jalan kaki.



Walaupun sedang tidak dirumah, tapi maghrib aku tetep kembali ke homestay. Anak baik - baik kan aku ? sekitar jam 8 malam keluar lagi ke daerah legian, sekedar melihat - lihat budaya yang bukan aku banget. Banyak sekali wisatawan asing yang ku temui saat itu. bahkan sepertinya hampir 90%. Karena pusing sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke homestay dan tidur.
Share:

Senin, 27 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 2 - BERANGKAT

Tanggal 16 Agustus pagi
 
Selayaknya dulu pas masih kecil, kalau mau pergi biasanya malah nggak bisa tidur. Nah kalau ini, aku bisa tidur normal, hanya saja bangunnya yang nggak normal. Biasanya di hari kerja, alarmku bunyi jam 05.00 pagi dan akan aku snooze 10 menit kemudian. Hari ini, tak lihat di layar handphone ada notifikasi alarm ku akan bunyi 1,5 jam lagi. Hebat!


Barang - barang yang akan aku bawa sudah ku siapkan sejak semalam, jadi tinggal sholat, sarapan, dan berangkat. Lebih tepatnya menunggu pagi. Kereta yang ku pesan berangkat pukul 11.40, tapi karena jarak dari kos sampai stasiun lumayan jauh, biasanya kalau naik motor butuh waktu 1 jam dan aku belum pernah naik BRT Trans Jateng, jadi aku berangkat jam 8 pagi. Dulu pernah, pas mau ke stasiun juga, nunggu Trans Jateng satu jam lebih nggak dapat, jadi sekarang berangkat pagi - pagi. Ongkos Trans Jateng ini hanya 3.500, dan ternyata hanya butuh sekitar 5 menit untuk menunggu bus datang. perjalanan juga lancar, sekitar satu jam 15 menit sudah sampai tujuan. Wah, menyesal berangkat kepagian.





Sampai di stasiun, aku ke customer service dulu buat ambil uang pembatalan tiket sebelumnya, lumayan dapat duit buat tambahan jajan nanti. prosesnya cepet banget. cuma nunjukin form pembatalannya dan kasih KTP, langsung dikasih uangnya. Selanjutnya aku ke Indomaret buat jajan. yang penting kalau menurutku air mineral dan permen. Di Indomaret ini, aku mengeluarkan uang 38.500.



Selama menunggu, aku nonton Meteor Garden di Viu. ngulang - ngulang adegan Lei yang ngomong "Ni hao. hao. hao hao hao hao hao." begitu terus, sampai akhirna bisa naik kereta dan berangkat. Di gerbong kereta ekonomi maharani yang akan mengantarkanku ke Surabaya, kebetulan kurang asik ah. Yang duduk di depanku adalah sekeluarga (bapak - ibu - anak) yang agak rewel, dan sebelahku ibu - ibu rempong yang memaksaku harus membagi setengah jatah tempat duduk. Aku bener - bener susah gerak. Karena sedikit emosi juga, akhirnya aku pergi ke kereta makan saja. Lumayan, ada satu kursi yang kosong. - akhirnya lega. Sekalian, aku pesan pop mie karena nggak bawa cemilan. harganya 10.000




Sesampainya di Surabaya, aku sudah di jemput. Kayaknya, dari sekian perjalanan, baru kali ini deh ada yang nungguin. bahagianya. Sebelum berangkat, aku memang chat di grup Traveling, nyari teman untuk nunggu kereta di Surabaya. Untungnya, ada Mbak Lidya yang mau menemaniku selama sekitar 5 Jam di Surabaya. Sebelum keretaku sampai, Mbak Lidya mengirim pesan bahwa ia sudah menunggu di stasiun. Setelah sampai, aku langsung menemui mereka. Mbak Lidya nggak sendiri, dia mengajak Mas El dan Syifa yang menggemaskan. Keluar dari stasiun, aku diajak ke Tugu Pahlawan dengan naik Gocar seharga 25.000.





Museum di Tugu Pahlawan tutup pukul 16.00 dan kami sampai sana sudah pukul 17.00 jadi hanya bisa masuk di platarannya saja. Mereka bertiga langsung duduk di rerumputan, sedangkan aku sudah bisa ditebak -ngilang. Jalan dari ujung ke ujung dengan sok - sokan membawa kamera yang hanya di setting auto. Tapi seneng juga, sudah beberapa kali ke surabaya baru kali ini mampir ke Tugu Pahlawannya. Saat itu tidak terlalu ramai di Tugu Pahlawan. Selain kami bertiga, ada juga beberapa anak muda yang sedang berolahraga. Ku dengar Suaranya, aksen khas Indonesia Timur. Sempat ngobrol sebentar, ternyata mereka dari NTT.



Belum terasa lama, Langit sudah mulai gelap. lampu sorot warna - warni di Tugu Pahlawan sudah di nyalakan, Sebentar lagi Adzan Maghrib. (Atau mungkin sudah ?) aku bergegas menghampiri Mbak Lidya lagi, lalu kita pindah tempat ke Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya. Ongkosnya dibayarin mba Lidya, "makasih mbak". Pas mau masuk museum, Mbak Lidya memilih untuk makan malam. Jadi aku masuk sendiri. Tiket masuknya 15.000 dana aku menyesal masuk ke musem sendiri malam - malam. Di area museum ada museummnya sendiri yang berbentuk kapal selam asli buatan tahun 1952. Tua juga. Untuk masuk, kita harus naik tangga dulu. Sampai di ujung tangga sebelum benar - benar masuk, tiba - tiba deg - degan dan kaki rasanya berat mau melangkah. Nggak ada penjagaan, dan kebetulan nggak ada pengunjung lain juga.



Setelah sekitar 10 menit hanya berdiri di depan pintu, akhirnya memutuskan untuk masuk. Ada cctv di dalam. baru dua langkah, suara mesin terdengar sangat mengintimidasi. Bikin tambah deg - degan. Ruangannya juga sempit, tidak memungkinkan untuk lari. Menengok kanan, terlihat ruangan berikutnya adalah tempat tidur. Menurutku, bagian ini paling menakutkan. Karena perasaan semakin tidak karuan, aku memutuskan untuk mundur lagi. Aku keluar dan duduk di tangga kapal selam. Setelah sejenak menenangkan diri dan memantapkan hati, akhirnya memutuskan mantap untuk masuk lagi. Anggap saja ini challenge untuk diri sendiri, menguji seberapa beranikah aku ini ?



Aku masuk tanpa melihat - lihat dan mempelajari apa saja isi kapal selam ini seperti jika aku mengunjungi museum - museum lain biasanya. Yang ku pikirkan hanya cepat sampai di jalan keluar. Sepertinya tidak sampai 5 menit aku di dalam, karena memang buru - buru. Cerita horornya memang aku tak mencari tahu, tapi sungguh. masuk museum sempit yang isinya mesin - mesin saat malam hari sungguh memacu adrenalin.

Setelah itu, aku istirahat sebentar dan menghampiri Mbak Lidya di Plaza Surabaya. Aku pamitan sama Mbak Lidya, Mas El dan Syifa, karena aku pengen makan Bebek Sinjay. Lokasinya berada di Sebrang Superindo dekat hotel MaxOne Dharmahusada. Untuk kesana, aku naik Grab dengan ongkos 9.000. Sampai di Warung Bebek Sinjay, ada beberapa kelompok orang yang sedang makan dan ada 2 orang yang mengantri pesan. Akupun langsung mengantri setelahnya. Baru satu orang dilayani, tiba - tiba mereka memasang tulisan -habis- wah.. kecewa!


Untungnya, pelayannya bilang, "masih, untuk kalian berdua. kamu nanti order terakhir" seraya menunjukku. Aku langsung memberikan senyum bahagia. Aku pesan menu bebek sepaket sama air mineral harganya 29.000. Seporsi berisi bebek goreng dengan kremes khas, nasi yang banyak banget, lalapan, dan sambal pencit khas madura. Seneng banget, akhirnya nggak batal makan bebek Sinjay. Oiya, kenapa sampai sebegitu kecewanya ? karena di warung bebek lain aku nggak bisa makan bebeknya karena biasanya bau dan teksturnya beda. Nah sejauh ini baru bebek sinjay yang aku bisa makan.  Selesai makan, aku menyebrang ke Superindo untuk beli cemilan untuk nanti di kereta. Jajanku murah, hanya 17.000 saja. Lalu aku order grabbike lagi untuk ke stasiun Surabaya Gubeng, harganya 7.000. Kok murah ini daripada yang tadi ? padahal jaraknya sama.

Sampai stasiun Gubeng, ternyata banyak juga penumpang yang mau naik kereta malam. di dekat tempatku duduk terlihat ada indomaret. Tiba - tiba pengen onigiri. Akhirnya beli satu. harganya 8.000. Setelah beli onigiri langsung masuk ke peron. Tak lama kemudian, kereta datan. Aku langsung masuk kereta. Baru sadar, aku di gerbong eksekutif (biasanya tetep nyari yang paling murah kan?). Sambil ketawa dalam hati, akhirnya nggak harus perang sama orang yang duduk di sebelah. Sepanjang perjalanan hanya tidur, karena malam hari dan sesekali membalas pesan chat yang dari pagi dianggurin.



Beberapa menit sebelum sampai, ada pramugara yang membangunkan karena sudah hampir sampai tujuan -Stasiun Banyuwangi Baru-. Aku langsung siap - siap. Keluar dari stasiun, masih gelap. Sekitar pukul 4 pagi. Jalanan di Depan stasiun ternyata gelap. banyak tukang ojek, supir taksi dan becak yang memaksaku untuk naik ke angkutan mereka masing - masing. Padahal yang kulihat dari peta, dari stasiun sampai pelabuhan ketapang hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk jalan kaki. Tapi karena aku rada terintimidasi dengan para tukang ojek, dan jalanan depan stasiun gelap akhirnya aku terpaksa naik ojek dengan biaya 10.000 samapi depan pelabuhan.



Sesampainya di pelabuhan, aku membeli tiket untuk perorangan seharga 6.500 dan kebetulan tanpa menunggu lama, sudah ada kapal yang siap berangkat. Ini pertama kalinya aku naik kapal. Norak ya ? hanya kapal kecil, deck pertama untuk kendaraan, dan deck diatasnya untuk kursi penumpang. ada beberapa penumpang lain juga yang mau menyebrang ke pulau dewata saat itu. Tak sampai satu jam, Sudah terlihat tulisan "Selamat Datang di Jembrana" lengkap dengan foto Bupatina yang sebetulnya aku tak tau siapa.

Share:

Minggu, 26 Agustus 2018

JANJI BALI - PART 1 - PLANNING


Setiap awal bulan, kerjaanku di kantor salah satunya adalah buat jadwal absen. bagian yang paling penting dari pekerjaan ini adalah lihat di kalender, angka berapa saja yang berwarna merah. Bulan - bulan yang paling bikin bahagia adalah Juni, banyak cuti. Tapi setelah itu, lihat kalender bulan Juli 2018 terasa menyedihkan sekali, warna merah hanya muncul tiap akhir pekan. Belum ada seminggu di bulan Juli, aku mulai bosan. Iseng - iseng lah membuka kalender bulan Agustus, untungnya ada cahaya. Hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada hari Jumat, yang berarti aku punya waktu bahagia yang panjang. 
Hal pertama yang kepikiran pastinya diskusi sama @iiqhue untuk memanfaatkan hari libur, tapi sayangnya hari sabtu doi harus melaksanakan tugas kuli. Akhirnya ku putuskan sendiri untuk solo backpacking ke . . . .
Bali !




Hal pertama yang dilakukan tentunya nyari tiket perjalanan. Tadinya, aku sudah booking kereta Sri Tanjung yang berangkat tanggal 17 Agustus pagi dari stasiun Lempuyangan menuju Banyuwangi Baru seharga 94.000. Untuk tiket pulang, sudah mencoba cari beberapa rute belum menemukan kombinasi yang pas, lalu mencoba cari tiket pesawat. Men! harganya melonjak tinggi ke angkasa deh mentang - mentang high season. paling murah nemu waktu itu angkanya udah diatas satu juta. Ya-kali tak beli. akhirnya menemukan alternatif bus yang bisa dipesan online, berangkat tanggal 19 Agustus dari terminal Mengwi menuju Pucang Gading, Semarang seharga 250.000 saja. Oke, langsung transfer.


Karena ini pertama kalinya aku mau solo backpacking, padahal biasanya terima jadi langsung berangkat, akhirnya aku menyerah bikin planning sendiri. untungnya @iiqhue masih peduli sama adeknya yang isi otaknya cuma makanan ini. Hasil rapat menyatakan bahwa akan lebih baik aku ganti rute, lebih baik berangkat dari Semarang dibandingkan dari Jogja. Akhirnya, aku cancel pembelian tiket kereta Lempuyangan - Banyuwangi Baru. Karena tidak ada rute kereta Semarang Banyuwangi, jadi aku memesan tiket kereta maharani Semarang Tawang - Surabaya Pasar Turi tanggal 16 Agustus berangkat pukul 11.40 seharga 49.000 karena ini yang paling murah. dilanjut dari Surabaya Gubeng - Banyuwangi Baru berangkat pukul 22.00 seharga 200.000.

Selanjutnya yang perlu di persiapkan adalah penginapan. Aku cari - cari di semua akun aplikasi yang biasanya ngasih voucher dan mencari perbandingan harga, akhirnya dengan mantap memilih pesan dari Agoda menginap di Gong Corner Homestay dengan harga 50.000 per malam. Disini, aku booking untuk 2 malam, jadi bayarnya 100.000

Sebetunya, setiap pekerjaan di kantor sudah berasa selesai, iseng - iseng bikin itenerary sendiri, tapi karena memang pada dasarnya aku orangnya spontan, malah jadi pusing sendiri. Akhirnya, nggak ada yang dilaksanakan, asal jalan saja. Awal Agustus, aku siap mengajukan cuti untuk tanggal 16 Agustus dan 20 Agustus dan langsung mendapat Acc. Betapa bahagianya!

Share: